TOKYO, AVOLTA – Subaru mengambil langkah baru dalam strategi elektrifikasi, yaitu menghentikan penggunaan sistem mild hybrid pada sejumlah model. Sebagai gantinya, pabrikan asal Jepang itu memilih beralih ke teknologi full hybrid hasil pengembangan bersama Toyota.
Melansir Carscoops, Jumat (24/7/2026) sistem mild hybrid Subaru selama ini mengandalkan motor listrik berukuran kecil yang hanya berfungsi membantu kerja mesin bensin saat akselerasi, sekaligus mendukung sistem start-stop dan pemulihan energi saat deselerasi.
Teknologi tersebut dinilai belum mampu memberikan penghematan bahan bakar yang signifikan dibanding sistem hybrid konvensional.
Melihat perkembangan pasar yang semakin mengarah ke kendaraan elektrifikasi dengan efisiensi lebih tinggi, Subaru memutuskan untuk menghentikan penggunaan teknologi mild hybrid dan mengadopsi sistem hybrid generasi baru berbasis series-parallel hybrid.
Sistem ini merupakan hasil kolaborasi dengan Toyota dan memungkinkan kendaraan melaju menggunakan tenaga listrik dalam kondisi tertentu, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh sistem mild hybrid.
Teknologi hybrid terbaru tersebut mulai diterapkan pada Subaru Forester Hybrid dan akan diperluas ke model-model lain secara bertahap. Sistem penggeraknya mengombinasikan mesin boxer khas Subaru dengan motor listrik yang lebih bertenaga, baterai berkapasitas lebih besar, serta transmisi e-CVT.
Subaru juga tetap mempertahankan sistem Symmetrical All-Wheel Drive sebagai ciri khas kendaraannya.
Melalui teknologi baru ini, Subaru mengklaim konsumsi bahan bakar dapat meningkat secara signifikan dibanding model bermesin bensin konvensional. Selain lebih hemat, sistem hybrid tersebut juga memberikan respons akselerasi yang lebih halus dan emisi gas buang yang lebih rendah.
Keputusan meninggalkan teknologi mild hybrid sekaligus menunjukkan perubahan arah strategi Subaru dalam menghadapi persaingan kendaraan elektrifikasi.






