Home Cerita Nissan Pangkas Waktu Pengembangan Mobil Baru Jadi 37 Bulan

Nissan Pangkas Waktu Pengembangan Mobil Baru Jadi 37 Bulan

TOKYO, AVOLTA – Nissan tengah mengubah cara kerja pengembangan kendaraan untuk mempercepat peluncuran model baru. Produsen asal Jepang ini mengakui bahwa salah satu inspirasi utama perubahan itu berasal dari cara kerja produsen otomotif Cina yang mampu mengembangkan kendaraan dalam waktu jauh lebih singkat.

Upaya tersebut dilakukan Nissan di tengah persaingan industri otomotif yang semakin ketat. Demikian melansir Carscoops, Senin (10/8/2026).

Kazuyuki Yamaguchi, Corporate Executive Nissan, mengatakan perusahaan harus mampu menghadirkan produk baru dengan lebih cepat agar dapat bertahan di tengah perubahan industri.

Nissan mengklaim waktu pengembangan kendaraan baru yang sebelumnya membutuhkan sekitar 50 bulan kini dapat dipangkas menjadi 37 bulan. Sementara model turunan atau penyegaran dari kendaraan yang sudah ada, proses pengembangannya kini bisa diselesaikan dalam waktu sekitar 30 bulan, atau 40% lebih cepat dibanding sebelumnya.

Salah satu contoh keberhasilan pendekatan baru tersebut terlihat pada pengembangan Nissan Skyline generasi terbaru. Mobil tersebut disebut hanya membutuhkan waktu 26 bulan sejak proses pengembangan hingga siap diperkenalkan.

Menurut Yamaguchi, perubahan ini tidak dilakukan dengan mengurangi kualitas kendaraan, tetapi dengan mengubah prioritas dalam proses pengembangan. Jika sebelumnya Nissan cenderung membutuhkan waktu panjang karena berusaha mencapai tingkat kesempurnaan di berbagai aspek, kini perusahaan lebih fokus pada bagian-bagian yang dianggap paling penting bagi sebuah kendaraan.

Nissan juga mengubah pendekatan dalam merancang model baru. Perusahaan tidak lagi membuat banyak desain untuk kemudian memilih salah satunya melalui proses yang panjang.

Sebagai gantinya, model-model kendaraan dikelompokkan berdasarkan keluarga dengan sejumlah titik dasar atau hard point yang sama. Cara tersebut membuat proses desain dan pengembangan dapat dilakukan dengan lebih cepat.

Teknologi juga menjadi bagian penting dari perubahan tersebut. Nissan kini lebih banyak menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses pemodelan dan pengujian kendaraan. Penggunaan digital twin dan virtual reality memungkinkan para insinyur melakukan simulasi serta menguji kendaraan secara virtual sebelum membuat prototipe fisik.

Dengan pendekatan tersebut, sejumlah proses pengujian yang sebelumnya membutuhkan kendaraan fisik dapat dilakukan terlebih dahulu melalui simulasi digital. Teknologi pengemudian otomatis yang dikembangkan Nissan juga memungkinkan pengujian kendaraan dilakukan secara lebih intensif, termasuk saat malam hari.