BEIJING, AVOLTA – CATL mengungkap arah pengembangan teknologi baterai masa depan yang berpotensi mengubah industri kendaraan listrik. Produsen baterai terbesar di dunia itu mengklaim bahwa baterai lithium-air yang sedang dikembangkannya memiliki kepadatan energi teoritis yang mendekati bensin.
Melansir ArenaEV, Jumat (12/6/2026) ini merupakan sebuah pencapaian yang dapat membuka jalan bagi mobil listrik dengan jarak tempuh jauh lebih panjang dibanding saat ini.
Menurut ilmuwan utama CATL, Wu Kai, teknologi lithium-air menjadi salah satu fokus jangka panjang perusahaan. Baterai jenis ini memiliki kepadatan energi teoritis hingga 12.000 Wh/kg, sedangkan bensin berada di kisaran 13.000 Wh/kg.
Sebagai perbandingan, baterai lithium-ion yang digunakan mobil listrik masa kini umumnya hanya memiliki kepadatan energi sekitar 250-270 Wh/kg.
Perkembangan di laboratorium juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Prototipe baterai lithium-air yang telah diuji mampu mencapai kepadatan energi lebih dari 1.200 Wh/kg. Angka tersebut sekitar empat kali lebih tinggi dibanding baterai kendaraan listrik yang beredar saat ini.
Jika teknologi ini berhasil dikomersialisasikan, mobil listrik masa depan berpotensi memiliki jarak tempuh lebih dari 1.600 km dalam sekali pengisian daya. Hal itu dapat menghilangkan salah satu kekhawatiran terbesar pengguna kendaraan listrik, yakni keterbatasan jarak tempuh dan kebutuhan untuk sering mengisi ulang baterai.
Meski terdengar menjanjikan, CATL mengakui bahwa jalan menuju produksi massal masih panjang. Baterai lithium-air menghadapi sejumlah tantangan teknis yang belum sepenuhnya terpecahkan.
Reaksi kimia di dalam baterai sangat sensitif terhadap kelembapan dan karbon dioksida di udara, yang dapat mempercepat degradasi sel dan mengurangi usia pakai baterai. Selain itu, stabilitas material katalis dan daya tahan siklus pengisian ulang masih menjadi pekerjaan rumah bagi para peneliti.
Karena itu, CATL menegaskan bahwa teknologi lithium-air bukanlah solusi jangka pendek. Dalam waktu dekat, perusahaan masih akan fokus pada pengembangan baterai sodium-ion dan solid-state yang lebih realistis untuk diproduksi secara massal.
Lithium-air diposisikan sebagai teknologi masa depan yang dapat membawa kendaraan listrik ke level berikutnya.






