JAKARTA, AVOLTA – CEO Honda, Toshihiro Mibe didesak untuk mundur oleh para pendiri perusahaan, menyusul kerugian yang dialami merek asal Jepang ini terkait strategi perkembangan kendaraan listrik (EV).
Disitat dari Carscoops, sejak akhir 2025, beberapa mantan eksekutif Honda mulai mengadakan pertemuan tertutup untuk membahas berbagai persoalan yang membelit perusahaan.
Dalam serangkaian diskusi tersebut, mereka menilai Mibe bertanggung jawab atas sejumlah keputusan strategis yang dinilai merugikan, terutama terkait pasar Cina dan arah pengembangan (EV).
Ketidakpuasan itu mencapai puncaknya pada April 2026 ketika mantan CEO Honda, Nobuhiko Kawamoto, yang kini berusia 90 tahun, datang langsung ke kantor pusat Honda di Tokyo untuk meminta Mibe mengundurkan diri. Namun, permintaan tersebut ditolak. Mibe tetap mempertahankan posisinya sebagai orang nomor satu di Honda.
Salah satu alasan utama yang digunakan kelompok mantan petinggi tersebut adalah kegagalan strategi elektrifikasi Honda. Beberapa pekan sebelumnya, Honda mengumumkan pembatalan tiga model mobil listrik yang semula direncanakan meluncur di Amerika Utara.
Selain itu, Mibe juga dituding menjauh dari filosofi “genba” yang selama ini menjadi bagian penting budaya kerja Honda. Istilah tersebut merujuk pada lokasi nyata tempat aktivitas bisnis berlangsung, seperti pabrik, dealer, hingga interaksi langsung dengan pelanggan.
Meski mendapat tekanan dari kalangan internal lama, Mibe tetap memperoleh dukungan dari komite nominasi dan dewan direksi Honda. Struktur tata kelola perusahaan yang kini melibatkan lebih banyak direktur independen membuat pengaruh para mantan eksekutif tidak lagi sebesar dulu.
Karena itulah, usaha pergantian kepemimpinan yang dilakukan kelompok senior tersebut akhirnya gagal.







