JAKARTA, AVOLTA – Jaguar Land rover (JLR) harus kembali mengambil langkah restrukturisasi bisnis, dengan memangkas sekitar 4.000 karyawan secara global dalam dua tahun ke depan. Langkah tersebut, harus diambil jenama asal Inggris ini, karena kesulitan menghadapi tekanan pabrikan Cina, tarif Amerika Serikat, dan transisi kendaraan listrik.
Disitat dari Reuters, pengurangan tenaga kerja ini akan dilakukan melalui program pengunduran diri sukarela. Jumlahnya, hampir 10 persen dari total 43 ribu karyawan JLR di seluruh dunia.
Chief Executive JLR, PB Balaji mengatakan industri otomotif saat ini menghadapi tantangan besar, mulai dari perubahan teknologi, persaingan yang semakin ketat, hingga ketidakpastian geopolitik.
Melihat kondisi tersebut, perusahaan menargetkan penghematan sekitar £1,7 miliar, atau sekitar Rp 41,3 triliun, sekaligus menurunkan titik impas produksi menjadi 300.000 unit per tahun.
Meski melakukan pengurangan ribuan pekerja, JLR memastikan transformasi bisnis tetap berjalan agresif. Dalam 12 bulan ke depan, perusahaan akan meluncurkan lima model baru sebagai bagian dari strategi ‘Growth Reimagined’ yang disiapkan untuk memperkuat posisi merek Jaguar dan Land Rover di pasar global.
Selain itu, JLR juga menegaskan komitmennya terhadap masa depan kendaraan listrik dan teknologi digital.
Selama lima tahun mendatang, perusahaan tetap mengalokasikan investasi sebesar £15 miliar hingga £18 miliar, atau sekitar Rp 364 triliun hingga Rp 437 triliun, untuk pengembangan elektrifikasi, teknologi digital, manufaktur canggih, serta peningkatan pengalaman pelanggan.







