SHENZHEN, AVOLTA – BYD semakin percaya diri menantang dominasi para raksasa otomotif dunia. Dalam rapat umum pemegang saham tahunan yang digelar Selasa (9/6/2026), Chairman sekaligus Presiden BYD, Wang Chuanfu, menyatakan perusahaannya berpeluang menjadi produsen mobil terbesar di dunia.
Menurut dia target tersebut akan tercapai berdasarkan skala bisnis dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Demikian melansir CarnewsChina, Kamis (11/6/2026).
Wang Chuanfu menyebut bahwa dalam tiga hingga lima tahun mendatang, BYD akan terus mempertahankan tren pertumbuhan dan pada akhirnya menjadi pemain nomor satu dunia dari sisi volume dan skala usaha.
Target tersebut diperkirakan dapat tercapai sekitar 2030, seiring ekspansi global yang semakin agresif dan penguatan teknologi yang dimiliki perusahaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, BYD memang menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Pabrikan asal Shenzhen, Cina ini berhasil menjadi merek mobil terlaris di pasar domestik dan bahkan telah melampaui Tesla sebagai produsen kendaraan listrik terbesar di dunia.
Pada tahun lalu, total pengiriman kendaraan BYD mencapai sekitar 4,6 juta unit, didukung oleh penjualan mobil listrik murni dan plug-in hybrid yang terus meningkat.
Kesuksesan tersebut tidak terlepas dari strategi integrasi vertikal yang diterapkan perusahaan. Berbeda dengan banyak produsen lain yang bergantung pada pemasok eksternal, BYD memproduksi sendiri berbagai komponen utama kendaraan, mulai dari baterai, motor listrik, sistem elektronik, hingga cip.
Wang Chuanfu juga optimistis perkembangan teknologi berkendara otonom level 3 dan level 4 akan berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Untuk mendukung era baru tersebut, BYD telah mempersiapkan pusat pelatihan dan pengembangan di sejumlah wilayah strategis seperti Eropa, Amerika Selatan, Asia Tenggara, dan Timur Tengah.
Ambisi besar BYD tentu bukan tanpa tantangan. Perusahaan masih harus menghadapi persaingan dari Toyota, Volkswagen, Hyundai, hingga Tesla yang memiliki basis pasar global yang sangat kuat.
Selain itu, berbagai isu geopolitik dan regulasi perdagangan internasional juga berpotensi menjadi hambatan bagi ekspansi merek-merek asal Cina. Bahkan baru-baru ini, pemerintah Amerika Serikat memasukkan BYD ke dalam daftar perusahaan Tiongkok yang dianggap memiliki keterkaitan dengan militer, meski BYD membantah tuduhan tersebut.






