SHANGHAI, AVOLTA – Xiaomi masih menghadapi tantangan besar dalam bisnis kendaraan listriknya. Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama 2026, perusahaan teknologi asal Cina itu tercatat mengalami kerugian sekitar 5.600 dollar AS atau setara Rp 91 jutaan untuk setiap mobil yang dijual.
Dalam laporan tersebut, mengutip CarnewsChina, Kamis (28/5/2025) divisi smart electric vehicle (EV) dan AI Xiaomi membukukan pendapatan sebesar 19,9 miliar yuan. Namun di saat yang sama, unit bisnis tersebut juga mencatat kerugian operasional mencapai 3,1 miliar yuan selama Januari hingga Maret 2026.
Sepanjang kuartal pertama tahun ini, Xiaomi berhasil mengirimkan 80.856 unit kendaraan listrik kepada konsumen. Jika dihitung berdasarkan total kerugian operasional, maka setiap mobil yang terjual masih menghasilkan kerugian sekitar Rp 91 jutaan. Angka tersebut melonjak drastis dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya sekitar 900 dollar AS per kendaraan.
Meski demikian, Xiaomi tetap mencatat pertumbuhan pengiriman kendaraan secara tahunan sebesar 6,6 % dibanding kuartal pertama 2025. Pendapatan khusus dari penjualan kendaraan listrik mencapai 19 miliar yuan dengan harga jual rata-rata sekitar 235.000 yuan per unit.
Xiaomi menyebut pertumbuhan tersebut ditopang oleh kontribusi kuat dari lini SUV terbaru YU7. Model tersebut menjadi andalan baru perusahaan setelah produksi generasi awal sedan SU7 mulai dihentikan dan volumenya menurun.
Terhitung hingga 6 Mei 2026, SU7 generasi terbaru yang meluncur pada Maret lalu disebut sudah mengantongi lebih dari 80.000 pesanan pasti.
Sementara itu, lini Xiaomi YU7 juga menunjukkan performa cukup positif. SUV listrik tersebut telah mencatat pengiriman kumulatif sekitar 232.000 unit hanya dalam waktu 10 bulan sejak debut pasar.
Meski bisnis EV masih merugi, Xiaomi tampaknya tetap agresif melakukan ekspansi. Perusahaan bahkan menargetkan masuk ke pasar Eropa mulai 2027 dan terus meningkatkan investasi di sektor kendaraan listrik, AI, hingga teknologi autonomous driving.



