Home Cerita Ekspor Otomotif Cina Terguncang Perang AS-Israel dan Iran

Ekspor Otomotif Cina Terguncang Perang AS-Israel dan Iran

BEIJING, AVOLTA – Perang yang berkecamuk antara Amerika Serikat-Israel dan Iran semakin memanas di kawasan Timur Tengah. Kini, kondisi ini mulai berdampak nyata pada ekspor otomotif Cina, karena alur distribusi kendaraan (CBU) ke berbagai pasar global mengalami gangguan.

Mengutip CarnewsChina, Kamis (5/3/2026) sejumlah pabrikan Tiongkok melaporkan operasi ekspor mereka terganggu, tidak hanya akibat lumpuhnya penjualan langsung ke negara seperti Iran, tetapi juga karena rute transhipment utama melalui Dubai yang kini dianggap tidak aman.

Banyak perusahaan otomotif Cina selama ini mengandalkan Jebel Ali Port di Dubai sebagai titik transit strategis untuk mendistribusikan mobil ke pasar Timur Tengah, Afrika Barat, dan Afrika Utara.

Lebih lanjut, Uni Emirat Arab (UEA) bahkan menjadi tujuan ekspor terbesar ketiga bagi kendaraan Cina pada 2025 setelah Meksiko dan Rusia, dengan volume pengiriman mencapai sekitar 567.000 unit, lebih tinggi dari penjualan domestik UEA sendiri yang kurang dari 400.000 unit.

Metode pengiriman melalui laut masih menjadi cara paling efisien dan ekonomis untuk mengangkut mobil buatan Tiongkok ke luar negeri. Namun, serangan yang terjadi di pelabuhan Jebel Ali pada 1 Maret membuat aktivitas operasional sempat terhenti.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah. Pasar ekspor utama lainnya bagi otomotif Cina, yaitu Uni Eropa juga mulai merasakan tekanan.

Uni Eropa merupakan kawasan tujuan ekspor mobil Cina yang ke-3 terbesar secara regional, termasuk sebagai pasar utama bagi kendaraan energi baru (New Energy Vehicles/NEV).

Dengan rute perdagangan melalui Terusan Suez-Laut Merah yang kini berisiko tinggi, pengiriman ke Eropa terpaksa dialihkan ke jalur panjang mengelilingi Cape of Good Hope, yang menambah waktu pengiriman hingga 10–15 hari.

Menurut data China Association of Automobile Manufacturers (CAAM), Tiongkok mencatat rekor ekspor sekitar 7,09 juta unit kendaraan pada 2025, naik sekitar 20% dibanding tahun sebelumnya.

Proyeksi pertumbuhan 2026 semula diperkirakan sekitar 4,3% untuk mencapai 7,4 juta unit, namun dinamika geopolitik global ini membuat angka tersebut mulai direvisi ulang karena potensi gangguan lanjutan terhadap jaringan ekspor secara keseluruhan.