JAKARTA, AVOLTA – Toyota Hilux bersiap memasuki babak baru di Eropa, dengan varian berbahan bakar hidrogen pada 2028. Langkah ini, menjadi bagian dari strategi multi pathway andalan pabrikan asal Jepang, yang tidak hanya mengandalkan mobil listrik berbasis baterai.
Teknologi ini, siap menjadi jawaban kendaraan niaga heat energi, dengan daya jelajah yang jauh, dan waktu pengisian energi yang cepat.
Disitat dari Asia Nikkei, model berbasis hidrogen tersebut akan melengkapi jajaran Hilux generasi kesembilan yang kini mencakup mesin diesel 2.8 Hybrid 48V, versi listrik murni (BEV), serta mesin konvensional di sejumlah pasar Eropa Timur.
Dengan tambahan pilihan fuel cell, Hilux menjadi model Toyota dengan pilihan sistem penggerak paling beragam di pasar Eropa.
Toyota menargetkan Hilux hidrogen mampu menempuh jarak lebih dari 400 kilometer dalam siklus WLTP. Kemampuan tersebut, dipadukan dengan kapasitas menarik beban hingga 2,5 ton, sehingga tetap relevan untuk kebutuhan bisnis maupun aktivitas berat yang selama ini menjadi ciri khas Hilux.
Teknologi hidrogen dipilih karena dinilai memiliki keunggulan pada kendaraan yang membutuhkan jarak tempuh panjang, penggunaan intensif, serta waktu isi ulang yang singkat.
Selain mengembangkan produknya, Toyota juga mendorong pertumbuhan ekosistem hidrogen melalui kerja sama dengan berbagai mitra industri di Eropa.
Sebelum resmi dipasarkan, teknologi ini akan lebih dulu diuji dalam ajang reli Dakar. Toyota GAZOO Racing berencana menurunkan Hilux Fuel Cell di kategori Future Mission 1000, mulai 2027 sebagai bagian dari pengembangan performa dan ketahanan sistem hidrogen di medan ekstrem.






