JAKARTA, AVOLTA – Pemerintah telah mulai melakukan pengkajian terkait program insentif kendaraan listrik berbasis penggunaan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).
Dijelaskan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, pihaknya mendapatkan arahan dari Ketua Dewan ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, untuk mulai menghitung dan mempelajari program insentif yang dapat mendorong peningkatan TKDN kendaraan listrik.
“Jadi, semakin tinggi nilai TKDN itu, semakin perlu mendapat perhatian dari pemerintah, termasuk persiapan-persiapan insentifnya,” jelas Agus, saat memberikan sambutan saat peresmian pabrik BYD di Subang, Jawa Barat.
Namun, memang belum diketahui pasti, bagaimana skema dan besaran nilai insentif yang bisa diberikan untuk kendaraan listrik yang memiliki nilai TKDN tinggi. Agus mengatakan, pihaknya akan segera merancang kebijakan tersebut, dan melakukan koordinasi dengan kementerian terkait, salah satunya Kementerian Keuangan.
“Kami akan segera desain, dan juga kami akan segera koordinasi dengan Kementerian Keuangan,” tegasnya.
Sementara itu, rencana insentif berbasis TKDN ini, memang sejalan dengan peta jalan kendaraan listrik yang menetapkan nilai TKND yang harus terpenuhi untuk model buatan dalam negeri. Pada 2026, nilai minimum TKDN adalah 40 %, dan naik bertahap yaitu 60 % pada 2027 hingga 2029 dan 80 % pada 2030.
Sementara itu, salah satu merek yang cukup serius untuk bisa memperkuat komponen dalam negerinya, adalah BYD Motor Indonesia. Setelah meresmikan pabrik terbarunya, di Subang Smarpolitan Industrial Park, Jawa Barat, jenama asal China ini juga membuka langkah investasi berikutnya, yaitu perakitan baterai secara lokal.
Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao mengatakan investasi BYD di Indonesia tidak berhenti pada fasilitas manufaktur kendaraan yang baru diresmikan, namun juga akan melengkapi ekosistem kendaraan listrik di tanah air dengan kegiatan manufaktur terkait baterai.
“Tanpa proses yang menyeluruh dari produksi, kita tidak bisa bilang bahwa suatu produk sepenuhnya buatan Indonesia. Kami juga merencanakan untuk melakukan beberapa pekerjaan perakitan (assembly) yang berkaitan dengan manufaktur baterai,” ujar Eagle pada kesempatan yang sama.
Strategi ini, menjadi upaya dari BYD, untuk bisa memperbesar TKDN dalam proses produksi kendaraan.
“Tahun 2027, kita pasti akan menjadi yang pertama berdiri mendukung TKDN yang akan menjadi 60 %. Dengan persiapan saat ini, kita sangat optimistis untuk pemenuhan TKDN kita bisa dihasilkan mulai Januari 2027, (sudah) mencapai 60 %,” tukasnya.






