BEIJING, AVOLTA – Produsen baterai terbesar asal Cina, CATL, membentuk aliansi global baru bersama sejumlah perusahaan otomotif dan teknologi dunia, seperti BMW, Xiaomi, Renault, Volvo, hingga Google.
Kolaborasi tersebut, seperti dikutip CarnewsChina, Rabu (1/7/2026) bertujuan menyusun standar internasional untuk pengelolaan siklus hidup baterai kendaraan listrik, mulai dari proses produksi, penggunaan, hingga daur ulang.
Aliansi yang diperkenalkan dalam ajang London Climate Action Week itu akan mengembangkan Battery Circular Design Guide, sebuah panduan yang dijadwalkan rampung pada 2027.
Dokumen tersebut diharapkan menjadi acuan industri dalam merancang baterai yang lebih mudah diperiksa kondisinya, dibongkar, diperbaiki, hingga didaur ulang setelah masa pakainya berakhir.
Panduan tersebut nantinya akan mencakup standar teknis mengenai metode pengujian kesehatan sel baterai, prosedur pembongkaran battery pack, hingga proses remanufaktur sel baterai. Standar ini tidak hanya ditujukan untuk mobil penumpang listrik, tetapi juga kendaraan niaga seperti truk listrik.
Melalui standarisasi tersebut, produsen mobil, operator armada, hingga perusahaan pembiayaan diharapkan dapat lebih mudah mengetahui riwayat penggunaan baterai, tingkat degradasi, serta sisa umur pakainya. Informasi tersebut dinilai penting untuk menentukan nilai jual kembali baterai maupun kendaraan listrik di pasar mobil bekas.
Inisiatif ini dikoordinasikan oleh Ellen MacArthur Foundation, organisasi yang selama ini aktif mendorong penerapan ekonomi sirkular di berbagai sektor industri. Fokus utamanya mengurangi limbah dan emisi karbon melalui penggunaan kembali material yang masih layak.
CATL juga mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar industri baterai berasal dari proses penambangan dan pengolahan bahan baku yang menghasilkan emisi jauh lebih tinggi dibanding proses produksi sel baterai.
Untuk mengatasinya, perusahaan mulai meningkatkan penggunaan material hasil daur ulang yang diklaim mampu menurunkan intensitas karbon hingga 32 persen. Sepanjang 2025, anak usaha CATL, Brunp, telah mengolah sekitar 210.000 ton limbah baterai dan berhasil memulihkan 99,6% logam penting di dalamnya.






