BEIJING, AVOLTA – Produsen baterai terbesar dunia, CATL, memperkirakan hingga 20.000 kendaraan listrik (EV) akan menggunakan baterai sodium-ion pada 2026.
Prediksi tersebut menunjukkan bahwa teknologi baterai berbasis natrium mulai bergerak dari tahap pengembangan menuju penggunaan komersial yang lebih luas di industri otomotif.
Menurut CATL, mengutip CarnewsChina, Jumat (26/6/2026) adopsi awal baterai sodium-ion pada tahun depan diperkirakan berada di kisaran 10.000 hingga 20.000 unit kendaraan.
Angka tersebut memang masih relatif kecil dibandingkan volume mobil listrik yang menggunakan baterai lithium-ion, tetapi menjadi langkah penting dalam memperkenalkan teknologi baru ke pasar massal.
Salah satu alasan utama CATL mendorong pengembangan baterai sodium-ion, yaitu ketersediaan bahan bakunya yang jauh lebih melimpah dibandingkan lithium. Sodium atau natrium dapat diperoleh dengan biaya lebih rendah dan tidak terlalu bergantung pada rantai pasok mineral kritis seperti lithium, nikel, maupun kobalt.
Selain itu, biaya produksinya berpotensi sekitar 30% lebih murah dibandingkan baterai lithium iron phosphate (LFP) ketika skala produksi sudah matang. Keunggulan lain dari baterai sodium-ion, yak i kemampuannya bekerja pada suhu ekstrem.
CATL mengklaim baterai generasi terbarunya mampu mempertahankan sekitar 90% kapasitas pada suhu minus 40 derajat Celsius, kondisi yang selama ini menjadi tantangan bagi banyak baterai lithium-ion. CATL sebelumnya telah memperkenalkan baterai sodium-ion generasi kedua bernama Naxtra.
Teknologi tersebut diklaim memiliki kepadatan energi hingga 175 Wh/kg dan mampu mendukung kendaraan listrik dengan jarak tempuh lebih dari 400 km. Dalam jangka panjang, CATL menargetkan baterai sodium-ion dapat digunakan pada kendaraan dengan jarak tempuh hingga 500-600 km dalam sekali pengisian daya.






