BRUSSEL, AVOLTA – Uni Eropa dikabarkan tengah mempertimbangkan penerapan tarif baru terhadap mobil hybrid dan plug-in hybrid asal Cina. Langkah ini muncul setelah sebelumnya kendaraan listrik murni buatan Tiongkok dikenai bea tambahan sejak 2024.
Kebijakan baru ini disebut sebagai upaya Brussel untuk menutup celah yang dimanfaatkan sejumlah produsen Cina guna mempertahankan ekspansi mereka di pasar Eropa. Demikian melansir Carscoops, Selasa (23/6/2026).
Menurut laporan yang beredar, Komisi Eropa telah menyiapkan mekanisme untuk mengenakan bea tambahan terhadap kendaraan hybrid dari produsen seperti BYD, Chery, hingga SAIC.
Namun, aturan tersebut masih memerlukan dukungan mayoritas negara anggota Uni Eropa sebelum bisa diterapkan secara resmi. Komisi Eropa sendiri belum memberikan komentar terkait kabar tersebut.
Dorongan untuk memperluas tarif ini tak lepas dari kekhawatiran Uni Eropa terhadap semakin besarnya ketergantungan pada produk asal Cina serta membengkaknya defisit perdagangan dengan negara tersebut.
Para pemimpin negara anggota juga tengah membahas langkah-langkah baru untuk melindungi industri otomotif dan manufaktur lokal dari tekanan produk impor berharga lebih kompetitif.
Sebelumnya, sejumlah produsen Cina mampu menghindari dampak tarif kendaraan listrik dengan menghadirkan model plug-in hybrid yang memadukan motor listrik dengan mesin bensin.
Strategi ini membuat merek-merek Cina tetap mampu memperluas pangsa pasar mereka di Eropa meski menghadapi hambatan perdagangan pada segmen EV murni.
Jika rencana tersebut benar-benar direalisasikan, maka produsen otomotif Tiongkok akan menghadapi tantangan baru dalam mempertahankan pertumbuhan penjualan di kawasan Eropa.






