Home Cerita VW Reposisi Pabrik Cina Jadi Basis Ekspor Asia Tengah

VW Reposisi Pabrik Cina Jadi Basis Ekspor Asia Tengah

BEIJING, AVOLTA – Volkswagen (VW) mengubah strategi bisnisnya di Cina dengan memanfaatkan fasilitas produksi lokal sebagai basis ekspor ke pasar luar negeri.

Setelah puluhan tahun menerapkan prinsip “diproduksi di Cina untuk pasar Cina”, pabrikan asal Jerman itu kini mulai mengirim mobil rakitan Tiongkok ke kawasan Asia Tengah sebagai langkah memperluas pasar sekaligus mengoptimalkan kapasitas pabrik.

Melansir CarnewsChina, Kamis (16/7/2026) langkah awal dilakukan melalui dua perusahaan patungan Volkswagen di Cina, yakni FAW-Volkswagen dan SAIC Volkswagen. Kedua perusahaan akan memasok berbagai model ke negara-negara seperti Kazakhstan dan Uzbekistan, sekaligus membuka babak baru dalam strategi ekspor Volkswagen dari Cina.

Selama ini, model rakitan lokal umumnya hanya dipasarkan untuk konsumen domestik dengan spesifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar Tiongkok.

Rencana tersebut semakin jelas setelah CEO Volkswagen China, Robert Cisek, menghadiri forum internasional di Tashkent, Uzbekistan, pada Juni lalu bersama Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier dan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev.

Dalam kesempatan itu diumumkan proyek perakitan delapan model Volkswagen di Uzbekistan hingga akhir 2026. Model yang akan diproduksi meliputi Tiguan L Pro, Passat Pro, Teramont Pro, serta beberapa model Jetta. Kendaraan tersebut nantinya juga akan diekspor ke negara-negara CIS, Asia Tengah, dan kawasan Kaukasus.

Di saat yang sama, FAW-Volkswagen juga telah menyelesaikan proses homologasi tiga model di Kazakhstan, yakni Volkswagen Magotan, Tayron L, dan Jetta VS7. Saat ini lini produk VW di Kazakhstan masih sangat terbatas, sehingga kehadiran model-model baru diharapkan mampu meningkatkan daya saing merek tersebut di kawasan tersebut.

Perubahan strategi ini tidak lepas dari kondisi pasar otomotif Tiongkok yang terus berubah. Penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) mengalami tekanan akibat meningkatnya popularitas kendaraan energi baru (NEV), yang kini telah menguasai lebih dari separuh pasar otomotif Cina.

Di sisi lain, penjualan VW di Cina juga mengalami penurunan signifikan dibanding beberapa tahun lalu, sehingga kapasitas produksi di sejumlah pabrik belum dimanfaatkan secara optimal.