DETROIT, AVOLTA – Selama bertahun-tahun, kehadiran mobil Cina di Amerika Serikat (AS) kerap dianggap sebagai ancaman besar bagi industri otomotif lokal.
Banyak politisi, pelaku industri, hingga serikat pekerja di AS khawatir produsen otomotif Cina bakal menghancurkan pasar domestik lewat mobil murah dan dukungan besar dari pemerintah Tiongkok.
Namun di balik kekhawatiran tersebut, industri otomotif Amerika ternyata sudah memiliki ketergantungan yang cukup dalam terhadap rantai pasok asal Cina.
Laporan terbaru dari The Wall Street Journal yang mengutip perusahaan konsultan AlixPartners, ditulis Selasa (19/5/2026) mengungkap lebih dari 60 pemasok otomotif di AS ternyata dimiliki perusahaan Cina. Tak hanya itu, perusahaan-perusahaan Tiongkok juga disebut memiliki saham di sekitar 5 % dari total sekitar 10.000 supplier otomotif yang beroperasi di AS.
Pengaruh Cina di industri otomotif Amerika bahkan sudah masuk ke berbagai model kendaraan populer. Ford Mustang GT misalnya, dilaporkan menggunakan transmisi manual enam percepatan yang dipasok dari Tiongkok.
Kemudian Toyota Prius Plug-in Hybrid disebut memiliki sekitar 15 % komponen asal Cina, sementara Chevrolet Blazer EV dan Equinox EV mengandung sekitar 20 % parts yang bersumber dari negara tersebut.
Situasi ini membuat pemerintah Amerika mulai bergerak untuk membatasi pengaruh industri otomotif Cina lebih jauh. Sejumlah anggota parlemen bipartisan seperti John Moolenaar dan Debbie Dingell baru-baru ini mengajukan rancangan undang-undang yang bertujuan membatasi penggunaan perangkat keras dan perangkat lunak kendaraan terkoneksi buatan Cina.
Langkah itu didorong oleh kekhawatiran soal keamanan nasional dan potensi pengumpulan data oleh pihak asing. Ketakutan terbesar pemerintah AS bukan hanya soal membanjirnya mobil listrik murah dari Cina.
Banyak pihak di Amerika menilai Cina bisa mengulang strategi seperti yang terjadi di industri panel surya, yakni menjual produk dengan harga sangat rendah berkat dukungan negara hingga akhirnya menghancurkan kompetitor lokal.
Debbie Dingell bahkan menyebut isu ini berkaitan langsung dengan masa depan industri dan tenaga kerja Amerika.
Meski begitu, memutus hubungan industri otomotif Amerika dengan Cina bukan perkara mudah. Banyak perusahaan otomotif besar di AS masih bergantung pada pemasok Cina untuk berbagai komponen penting.
Fuyao misalnya, menjadi salah satu pemasok kaca utama bagi sejumlah pabrikan otomotif yang beroperasi di Amerika. Di sektor kendaraan listrik, produsen baterai raksasa asal Cina, CATL, juga masih mendominasi teknologi baterai EV global.
Beberapa produsen mobil mulai mencoba mengurangi ketergantungan tersebut. General Motors dikabarkan meminta sejumlah supplier untuk menghapus sumber komponen dari Tiongkok paling lambat 2027.
Tesla juga sebelumnya disebut meminta pemasoknya untuk tidak lagi menggunakan komponen buatan Cina pada kendaraan yang diproduksi di AS.
Namun upaya itu belum tentu cukup cepat untuk mengubah kondisi industri secara keseluruhan. Apalagi hubungan dagang Amerika dan Cina masih terus berubah mengikuti dinamika politik.
Bahkan Presiden Donald Trump belum lama ini diketahui melakukan kunjungan ke Cina, memunculkan spekulasi bahwa pemerintah AS suatu saat bisa saja membuka peluang produksi mobil Cina langsung di Amerika.
Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, maka kehadiran supplier Cina di industri otomotif Amerika mungkin hanya menjadi permulaan dari perubahan yang lebih besar di pasar otomotif global.



