JAKARTA, AVOLTA – Generasi Z (gen Z) di Amerika Serikat mulai menunjukkan ketertarikan terhadap mobil listrik asal Cina, meski kendaraan tersebut belum benar-benar dijual bebas di negaranya.
Bukan semata karena teknologi canggih, faktor harga yang jauh lebih terjangkau menjadi alasan utama yang mengubah cara pandang konsumen muda terhadap merek-merek Tiongkok.
Temuan survei terbaru dari Cox Automotive yang disitat Asia Nikkei menunjukkan, 69% konsumen Gen Z di Amerika mengaku tertarik membeli mobil Negeri Tirai Bambu. Angka tersebut mencerminkan perubahan persepsi terhadap produk otomotif asal Cina, yang selama bertahun-tahun kerap dipandang sebelah mata di pasar Negeri Paman Sam.
Salah satu daya tarik terbesar datang dari banderol harga. Di Cina, sejumlah produsen mampu menawarkan mobil listrik dengan harga sekitar USD 20.000 hingga USD 30.000, atau setara Rp 360 juta hingga Rp 540 juta. Bahkan, beberapa model berharga sekitar USD 8.000 atau sekitar Rp 144 juta sebelum dikenai tarif impor.
Sayangnya, konsumen Amerika Serikat belum bisa menikmati harga tersebut secara langsung. Pemerintah Amerika sendiri masih memberlakukan tarif impor sebesar 100% untuk mobil listrik Cina, disertai pembatasan lain terkait kendaraan terkoneksi yang membuat produk-produk tersebut nyaris tidak memiliki akses ke pasar domestik.
Meski begitu, minat anak muda tetap tumbuh. Banyak konsumen mulai melihat mobil Cina sebagai pilihan yang menawarkan kombinasi teknologi modern, fitur melimpah, dan harga yang lebih masuk akal dibandingkan sejumlah model lokal.
Tren ini sejalan dengan meningkatnya sensitivitas terhadap harga di kalangan pembeli muda, yang cenderung menekan anggaran tanpa ingin mengorbankan kualitas maupun fitur kendaraan.







