BEIJING, AVOLTA – Cina menolak rencana pembatasan ekspor mobil hybrid ke pasar Eropa yang disebut tengah dipertimbangkan Uni Eropa (UE). Pemerintah menilai pembatasan ekspor secara sukarela bertentangan dengan aturan perdagangan internasional.
Kementerian Perdagangan Cina menyatakan, pembatasan ekspor secara sukarela atau voluntary export restrictions tidak sesuai dengan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), prinsip ekonomi pasar, serta persaingan yang adil.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap laporan yang menyebut UE meminta Cina secara sukarela membatasi ekspor mobil hybrid ke kawasan tersebut. Jika tidak tercapai kesepakatan, UE disebut dapat mempertimbangkan kenaikan tarif untuk kendaraan hybrid buatan Tiongkok.
Juru bicara Kementerian Perdagangan Cina mengatakan, setiap solusi yang disepakati Cina dan UE harus mempertimbangkan kepentingan kedua pihak, mematuhi aturan WTO serta hukum domestik masing-masing, dan mengakomodasi kepentingan industri di kedua wilayah.
Rencana pembatasan ini menjadi isu baru dalam hubungan perdagangan otomotif Cina dan Eropa. Sebelumnya, UE telah memberlakukan bea tambahan terhadap mobil listrik berbasis baterai (BEV) buatan Cina sejak Oktober 2024.
Sementara itu, mobil hybrid Cina saat ini hanya dikenakan tarif standar sekitar 10%. Kondisi tersebut membuat kendaraan hybrid menjadi salah satu jalur ekspor yang berkembang bagi produsen mobil Cina ke pasar Eropa.
Menurut laporan Financial Times yang dikutip CnEVPost, Rabu (23/9/2026), impor mobil hybrid Cina ke UE meningkat dari sekitar 3.800 unit pada Oktober 2024 menjadi 50.000 unit pada Juli 2026. Pada periode yang sama, harga rata-rata kendaraan tersebut juga mengalami penurunan.
UE disebut mempertimbangkan pembatasan tersebut untuk mendorong produsen Cina meningkatkan investasi di Eropa atau menjalin kerjasama dengan perusahaan lokal. Laporan tersebut juga menyebut adanya pembahasan mengenai pembatasan ekspor sekitar 15% dari pasar hybrid UE, meski rincian tersebut berasal dari laporan media dan belum menjadi kebijakan resmi.
Di sisi lain, ekspor kendaraan menjadi semakin penting bagi industri otomotif Tiongkok. Data Cina Association of Automobile Manufacturers (CAAM) menunjukkan ekspor kendaraan Cina mencapai sekitar 1,01 juta unit pada Agustus 2026, naik 65,3% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, ekspor kendaraan energi baru atau new energy vehicle (NEV) mencapai sekitar 526.000 unit, meningkat sekitar 130% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut mencakup seluruh pasar ekspor Cina dan tidak secara khusus menunjukkan pengiriman ke Eropa.









