JAKARTA, AVOLTA – Stellantis resmi memulai pengujian baterai solid-state dengan menggunakan prototipe Dodge Charger Daytona EV. Pengujian ini, menjadi langkah nyata untuk pabrikan, untuk menghadirkan mobil listrik dengan baterai yang lebih ringan, lebih aman, dan mampu menempuh jarak lebih jauh.
Disitat ArenaEV, penggunaan sebuah muscle car listrik performa tinggi untuk menguji baterai solid-state bertujuan untuk mengevaluasi performa baterai dalam berbagai kondisi berkendara sehari-hari.
Pengembangan baterai ini sendiri, Stellantis bekerja sama dengan Factorial, perusahaan teknologi baterai asal Massachusetts, Amerika Serikat. Nama Factorial mungkin blum terlalu dikenal publik, tetapi perusahaan ini mendapat dukungan dari sejumlah raksasa otomotif dunia seperti Mercedes-Benz, Hyundai, Kia, dan Stellantis yang sama-sama berlomba menghadirkan generasi baru mobil listrik.
Baterai yang digunakan merupakan sel solid-state FEST (Factorial Electrolyte System Technology). Berbeda dengan baterai lithium-ion konvensional yang memakai elektrolit cair atau gel, teknologi ini menggunakan material padat.
Perubahan tersebut memungkinkan kepadatan energi yang lebih tinggi dalam ukuran dan bobot yang lebih ringkas, sehingga berpotensi mengurangi berat kendaraan sekaligus meningkatkan jarak tempuh.
Dari sisi spesifikasi, Factorial mengklaim sel baterai ini memiliki kepadatan energi hingga 375 Wh/kg, lebih tinggi dibandingkan baterai yang umum digunakan di mobil listrik massal saat ini.
Selain itu, baterai mampu mengisi daya dari 15 persen hingga 90 persen hanya dalam waktu 18 menit. Keunggulan lain terletak pada ketahanannya terhadap cuaca ekstrem. Sel baterai ini diklaim tetap beroperasi dengan baik pada suhu mulai dari minus 30 derajat Celsius hingga 45 derajat Celsius.






