JAKARTA, AVOLTA – Toyota mulai mengubah strategi pengembangan kendaraan listriknya di Cina, dengan meberikan porsi lebih besar kepada pemasok lokal. Langkah tersebut, dilakukan demi mengejar daya saing di pasar elektrifikasi terbesar di dunia tersebut.
Namun di sisi lain, pemasok Jepang banyak kehilangan proyek , yang sebelumnya diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru. Demikian disitat Asia Nikkei, Sabtu (26/9/2026).
Sejumlah perusahaan komponen Jepang yang selama ini menjadi bagian dari rantai pasok Toyota, ternyata gagal memperoleh kontrak. Sedangkan banyak pekerjaan justru berpindah ke perusahaan-perusahaan asal Tiongkok.
Salah satu sinyal perubahan tersebut bahkan datang dari pemasok Cina, yang dalam pesan awal tahunnya menyebut keberhasilan memenangkan proyek penting, termasuk proyek Lexus berkode “761D”. Bagi pemasok Jepang di Cina, kabar tersebut menjadi pukulan karena sebelumnya mereka berharap teknologi yang sudah dikembangkan untuk Toyota bisa kembali digunakan pada model listrik terbaru.
Strategi ini sejalan dengan pendekatan baru Toyota yang semakin mengandalkan kemampuan pengembangan lokal. Untuk model bZ3X misalnya, sekitar 655 rantai pasok, berasal dari perusahaan Cina. Sistem suara menggunakan AI iFlytek, lidar dipasok Hesai, perangkat lunak dikembangkan Momenta, sementara baterai berasal dari CALB dan ZENERGY.
Alasan utamanya adalah efisiensi biaya sekaligus kecepatan pengembangan. Dengan menggunakan komponen yang hampir seluruhnya berasal dari Cina, Toyota dapat memangkas harga modelnya agar lebih kompetitif menghadapi produsen lokal seperti BYD.







