Home Cerita Perang Iran, Ekspor Mobil Jepang Terperosok 90%

Perang Iran, Ekspor Mobil Jepang Terperosok 90%

Proses produksi Toyota Mirai di pabrik Toyota di Jepang. (Toyota)

JAKARTA, AVOLTA – Industri otomotif Jepang menghadapi tekanan besar, setelah ekspor kendaraan ke kawasan Timur Tengah nyaris lumpuh pada April 2026.

Gangguan pengiriman akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel, melawan Iran membuat jalur pelayaran utama terganggu, termasuk Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute perdagangan terpenting dunia.

Data pemerintah Jepang menunjukkan, ekspor kendaraan bermotor ke Timur Tengah merosot lebih dari 90 %, baik dari sisi volume maupun nilai dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini membuat pengiriman mobil penumpang, truk, hingga bus dari Jepang praktis terhenti ke wilayah tersebut.

Tidak hanya kendaraan baru, pasar mobil bekas Jepang yang selama ini cukup besar di Timur Tengah juga ikut terkena dampaknya.

Disitat dari Reuters, situasi tersebut menjadi pukulan serius bagi pabrikan besar seperti Toyota dan Nissan. Pasalnya, Timur Tengah merupakan pasar penting bagi kendaraan berukuran besar dan model dengan margin keuntungan tinggi, termasuk Toyota Land Cruiser.

Pada 2025, kawasan tersebut menyumbang sekitar 14 % dari total ekspor kendaraan Jepang secara global.

Penutupan efektif Selat Hormuz, membuat rantai logistik otomotif global ikut terguncang. Sejumlah produsen bahkan mulai memangkas produksi, karena distribusi kendaraan menuju pasar ekspor mengalami hambatan serius.

Meski beberapa unit kendaraan bisa dialihkan ke pasar lain, volume penjualan yang hilang dari Timur Tengah dinilai sulit tergantikan dalam waktu singkat.