
BANGKOK, AVOLTA – Suzuki Motor Corporation (SMC) telah mencapai kesepakatan untuk menjual fasilitas pabrik mobilnya di Rayong, Thailand, kepada Ford Motor Company (FMC), sebagai bagian dari strategi restrukturisasi usahanya.
Pabrik yang telah beroperasi sejak 2012 itu menjadi saksi dinamika pasar otomotif, namun kini Suzuki memutuskan untuk menghentikan produksi mobil di negara tersebut dan menyerahkan asetnya kepada Ford, memperkuat basis produksi Ford di kawasan ASEAN. Demikian dikutip Asia Nikkei, Selasa (27/1/2026).
Keputusan ini muncul di tengah penurunan tajam produksi dan penjualan Suzuki di Thailand. Kapasitas pabrik Rayong semula dirancang untuk 80.000 unit per tahun dan pernah mencetak produksi hampir 60.000 unit per tahun, terutama model-model kecil seperti Swift.

Namun, angka produksi anjlok drastis menjadi hanya sekitar 4.400 unit pada 2024, mencerminkan tekanan pasar yang berat dan berkurangnya daya saing Suzuki di segmen mobil kompak.
Perubahan lanskap pasar ini tak terlepas dari munculnya merek mobil Cina yang agresif memperluas pangsa pasar, termasuk di segmen kendaraan energi baru dan mobil terjangkau.
Tren tersebut telah memperlemah posisi pabrikan Jepang yang selama ini dominan di ASEAN, termasuk Thailand, pendorong produksi otomotif penting di wilayah ini.
Ford mengambil kesempatan ini untuk memperluas operasinya di Thailand, yang telah menjadi pusat ekspor penting ke seluruh Asia Tenggara, dengan mengakuisisi lahan dan fasilitas Suzuki yang luas.






