
JAKARTA, AVOLTA – Ford Motor Company resmi menghentikan ekspor kendaraan dari Amerika Serikat (AS) ke Cina, sebagai respons terhadap tarif balasan yang diberlakukan oleh pemerintah Tiongkok terhadap Negeri Paman Sam.
Langkah ini memengaruhi pengiriman model ikonik seperti Ford F-150 Raptor, Mustang, Bronco, dan Lincoln Navigator, yang kini dikenai bea masuk hingga 150% di pasar Negeri Tirai Bambu.
Disitat dari Carscoops, meskipun jumlah kendaraan yang diekspor dari AS ke Cina relatif kecil, sekitar 5.500 unit dari total 400.000 unit penjualan Ford di Cina pada 2024, model-model ini memiliki margin keuntungan yang cukup tinggi. Ford F-150 Raptor misalkan, yang dijual dengan harga lebih dari US$ 100.000 atau sekitar Rp 1,6 miliar di pasar Cina .
Ford menegaskan bahwa ekspor mesin dan transmisi buatan AS ke Cina akan tetap berlanjut. Selain itu, model Lincoln Nautilus yang diproduksi di Cina juga akan terus didistribusikan di pasar domestik, meskipun terkena dampak tarif tinggi.
Keputusan ini mencerminkan dampak signifikan dari perang dagang antara AS dan Cina terhadap industri otomotif global.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump memberlakukan tarif 25% untuk impor otomotif, yang diperkirakan akan meningkatkan biaya bagi produsen mobil sebesar US$ 108 miliar pada 2025 .
Meskipun sekitar 80% kendaraan Ford yang dijual di AS diproduksi secara lokal, perusahaan tetap mempertimbangkan untuk menaikkan harga kendaraan baru jika tarif terus berlanjut. Hal ini menunjukkan bahwa dampak perang tarif tidak hanya dirasakan di pasar ekspor, tetapi juga dapat memengaruhi konsumen domestik.



