Strategi Lamborghini Menghindari Pasar Cina Berbuah Manis

JAKARTA, AVOLTA – Pasar Cina jadi yang terbesar di dunia, dan tak heran banyak pabrikan yang mencoba masuk untuk mencari peruntungan. Namun, hal tersebut, justru mendapat kritikan seorang Stephan Winkelmann, CEO Lamborghini.

Berbicara kepada Autoblog, sejak awal, Lamborghini bahkan tidak terlalu mengandalkan Tiongkok sebagai wilayah penjualan yang potensial. Pasalnya, negara tersebut, bukanlah tempat untuk kendaraan super nan mewah ini.

“Mereka menghadapi masalah karena terlalu bergantung pada pasar Cina. Kami tidak seperti merek lain yang berlebihan dalam mengejar pasar tersebut,” kata Winkelmann.

Strategi Winkelmaan ini terbukti benar, karena jenama asal Italia ini mampu mencatatkan penjualan yang cukup baik. Tahun lalu, merek dengan lambing Banteng ini berhasil menjual lebih dari 10.000 unit untuk pertama kalinya.

Sedangkan dalam sembilan bulan pertama 2024, Lamborghini berhasil mengirimkan 8.411 unit kendaraan, dengan peningkatan pendapatan sebesar 20%.

Strategi Lamborghini yang hati-hati terhadap ekspansi di Cina terbukti berhasil, dan untuk produsen mobil global lainnya, sudah mulai menghadapi dampak dari penurunan pasar di negara tersebut.

“Pasar mobil mewah di Cina memang ada, tetapi ukurannya selalu lebih kecil dibandingkan dengan jumlah produk yang diinvestasikan oleh banyak produsen ke sana,” sambungnya.

Selain bersikap hati-hati sengan pasar Cina, Lamborghini juga tidak terburu-buru mengikuti tren elektrifikasi. Winkelmann mengaskan, bahwa adopsi plug-in hybrid tidak didasarkan pada keinginan untuk menjadi pelopor.

CATEGORIES
TAGS