Jika Baterai Lokal, Apa Harga Mobil Listrik Lantas Jadi Murah?

Platform Hyundai E GMP, menggunakan baterai di dek sasis. (Hyundai)

JAKARTA, AVOLTA – Baterai menjadi komponen utama pada kendaraan listrik. Bukan hanya itu, perangkat ini juga menyumbangkan nilai paling besar dalam penentuan harga mobil dan sepeda motor listrik.

Maka dari itu, sekarang ini harga kendaraan listrik tergolong jauh lebih mahal dibandingkan kendaraan mesin konvesional.

Produsen otomotif yang sudah memproduksi mobil listrik menyebut, baterai itu mempengaruhi harga jual 50% – 60%.

Nah, jika seperti itu, apabila baterai kendaraan listrik sudah diproduksi di Indonesia, apakah bisa menekan banderol mobil listrik yang dijual di pasar otomotif dalam negeri?

Project General Manager Toyota Daihatsu Engineering & Manufacturing (TDEM) Indra Chandra menjelaskan, untuk sementara ini baterai masih menjadi komponen utama dalam mobil listrik dan semua masih impor.

“Jadi kalau baterai impor itu, ada logistic cost, sampai ada material yang dikenakan exchange rate. Otomatis akan mempengaruhi harga jual mobil listrik,” ungkap Indra dalam diskusi virtual akhir pekan lalu.

Strategi Ciamik Toyota untuk Gaet Pembeli Mobil Listrik Pertamanya (carscoops)

Melihat kondisi seperti itu, maka para produsen otomotif menarik kesimpulan bahwa, terdapat potensi harga kendaraan listrik lebih murah jika komponen baterai diproduksi di dalam negeri. Indra tidak bisa memastikan penurunannya sampai berapa persen, tapi yang jelas bisa menekan harga lebih murah.

Perlu diketahui, sejauh ini sudah ada dua raksasa perusahaan yang akan berinvestasi membuat fasilitas perakitan baterai untuk kendaraan listrik di Indonesia.

Dua raksasa perusahaan baterai dunia itu, yakni LG Energy Solution dan Contemporary Amperex Technology atau CATL, yang siap menggelontorkan investasi di Indonesia hingga ratusan triliun rupiah.

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto mengatakan sampai 2026, kedua perusahaan tersebut secara total bakal menggelontorkan investasinya sekitar US$ 13-15 miliar atau hingga Rp 186-215 triliun.

“Besar (investasinya) kalau dilihat dua saja sampai dengan 2026 mungkin total keduanya berkisar US$ 13-15 miliar, belum yang lainnya. Secara keseluruhan mungkin bisa mencapai US$ 18 miliar. Time-nya sampai 2028,” ungkap Seto.

CATEGORIES
TAGS