Mobil Listrik Murah Asal Cina Ancaman untuk Merek Jepang

Daihatsu Sebut Mobil Listrik Murah Ancaman untuk Merek Jepang (Carscoops)

OSAKA, AVOLTA – Presiden Daihatsu Motor Company Ltd Soichiro Okudaira mengakui kendaraan listrik murah asal Cina menjadi ancaman bagi produsen mobil Jepang. Untuk sebagian besar, pembuat roda empat asan Negeri Matahari Terbit dirasa lambat untuk mengalihkan kei car ke tenaga listrik.

Disitat Asia Nikkei, Sabtu (12/3/2022), lambatnya beralih ke mobil listrik memberikan perusahaan Cina peluang untuk masuk ke pasar. Namun, bos Daihatsu tersebut berkomitmen untuk melakukan yang terbaik untuk menyaingi apa yang telah dibuat oleh para produsen Cina.

“Konsep desain mobil (Cina) bukan sekedar perpanjangan dari apa yang telah ada sebelumnya. Misalnya, baterai dan motor didinginkan dengan udara, bukan air,” ujarnya.

Meskipun begitu, mungkin ada kekurangan terkait mobil listrik yang akan dibuat pabrikan Jepang, seperti tidak cocok untuk perjalanan jauh dengan kecepatan tinggi, tetapi biaya dapat ditekan dengan membatasi lingkungan operasi yang diantisipasi.

“Perusahaan kami akan kembali ke dasar pembuatan mobil, dan memikirkan konsep baru untuk kendaraan listrik terjangkau. Kami harus mampu bersaing dalam harga,” tegasnya.

Sementara itu, Daihatsu akan merilis kei car listrik pertama pada 2025 dan menelan harga USD 8.600 yang notabene lebih mahal dari mobil listrik dari Cina. Meski demikian, Seichiro, mengatakan hal tersebut bukan satu-satunya hambatan bagi konsumen.

“Pasti ada permintaan untuk mobil kei yang memiliki interior relatif lebih luas, memiliki kapasitas bagasi yang cukup dan dapat menampung empat orang,” ujarnya lagi.

Mobil konsep EV Daihatsu DN Pro Cargo, pernah dipajang di GIIAS 2018. (Otospirit)

Selain itu, Daihatsu akan bekerjasama dengan sejumlah produsen mobil lain untuk melengkapi line-up listrik dan akan melakukan semua yang bisa dilakukan untuk mengendalikan biaya baterai.

“Daihatsu sedang menjajaki beberapa opsi, termasuk membeli baterai buatan Cina,” tambah Okudaira.

“Dibutuhkan investasi puluhan miliar yen atau lebih untuk menjadikan elektrifikasi semua kendaraan baru pada 2030. Jadi kami berkolaborasi dengan perusahaan induk kami, Toyota Motor. Kami, bersama Suzuki Motor, berpartisipasi dalam usaha pengembangan EV yang dimiliki bersama oleh Toyota dan Isuzu Motors, dan bersama-sama kami akan mengembangkan teknologi terkait,” pungkasnya.

CATEGORIES
TAGS