JAKARTA, AVOLTA – Pemerintah Cina mulai mengurangi sejumlah insentif untuk kendaraan listrik (EV), dengan kembali memberlakukan pajak konsumsi untuk baterai lithium-ion.
Kebijakan tersebut berlaku mulai 1 September 2026, setelah selama 11 tahun baterai jenis ini mendapatkan pembebasan pajak. Langkah ini menjadi bagian dari perubahan kebijakan Beijing, seiring pertumbuhan pasar kendaraan energi baru (NEV) yang mulai melambat.
Disitat dari Asia Nikkei, berdasarkan kebijakan yang diumumkan otoritas Cina pada Juli 2026, baterai lithium-ion yang digunakan untuk NEV, termasuk mobil listrik dan plug-in hybrid (PHEV), dikenakan pajak konsumsi sebesar 2%. Tarif tersebut kemudian akan meningkat menjadi 4% mulai September 2027.
Kebijakan ini diperkirakan membuat produsen kendaraan maupun baterai, menghadapi tambahan biaya yang sebelumnya ditanggung melalui insentif pemerintah.
Sementara itu, Tiongkok telah memberikan pembebasan pajak baterai lithium-ion sejak 2015, untuk mendorong perkembangan industri NEV. Setelah lebih dari satu dekade, kebijakan tersebut kini mulai diubah. Produsen baterai diperkirakan akan meneruskan tambahan biaya kepada konsumen, apabila tidak mampu menyerap kenaikan biaya tersebut.
Perubahan kebijakan juga memberikan perhatian lebih besar terhadap teknologi baterai generasi baru. Cina masih mempertahankan insentif pajak untuk baterai sodium-ion dan solid-state, yang hingga kini belum digunakan secara luas. Pemerintah berharap dukungan tersebut dapat mengarahkan pengembangan industri menuju teknologi baterai yang lebih baru.








