JAKARTA, AVOLTA – Suzuki menyiapkan ubahan besar dari cara pengembangan mobil baru, agar bisa mengimbangi laju inovasi dari pabrikan Cina. Pabrikan berlambang huruf S ini, menargetkan memangkas waktu pengembangan model anyar, menjadi 2 tahun pada 2030, dari yang sebelumnya memakan waktu sekitar 40 hingga 48 bulan atau kurang lebih 4 tahun.
Strategi pengembangan mobil baru Suzuki ini, diumumkan dalam pemapaparan Technology Strategy 2026, disitat dari Asia Nikkei, Sabtu (26/9/2026).
Presiden Suzuki, Toshihiro Suzuki, mengakui bahwa kecepatan produsen Tiongkok dalam meluncurkan model baru telah mengubah standar persaingan industri otomotif global. Menurutnya, perusahaan harus meningkatkan ritme kerja, agar tetap mampu mengikuti perubahan pasar yang semakin cepat.
Demi mencapai target tersebut, Suzuki akan meninggalkan pola kerja berurutan yang selama ini digunakan. Jika sebelumnya tahap perencanaan harus selesai sebelum desain dimulai, lalu berlanjut ke produksi, ke depan seluruh divisi seperti perencanaan, desain, produksi, kualitas, hingga pengadaan akan bekerja secara paralel sejak awal proyek berjalan.
Perusahaan juga memperkuat pemanfaatan pengembangan digital dengan mengandalkan standar desain, data hasil pengujian, serta teknologi kecerdasan buatan generatif di ruang virtual. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan dari prototipe fisik, dan mempercepat proses validasi kendaraan baru.
Selain digitalisasi, Suzuki akan meningkatkan penggunaan modul bersama agar berbagai model dapat dikembangkan secara bersamaan tanpa harus memulai dari nol. Lewat langkah ini, perusahaan membidik peningkatan efisiensi pengembangan sebesar 30 persen dibandingkan tahun fiskal 2020, serta kenaikan efisiensi produksi hingga 50 persen.








