Ford PHK 1.000 Pegawai, Berhubungan dengan Investasi EV di RI

JAKARTA, AVOLTA – Ford Motor Co tengah menjadi sorotan lantaran melakukan PHK 1.000 orang karyawan, demi fokus mengembangkan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di masa depan. Jenama otomotif asal Amerika Serikat (AS) ingin melakukan efisiensi demi bisa bersaing di era elektrifikasi.
Melansir laman Reuters, Jumat (30/6/2023), secara garis besar, Ford+ merupakan strategi bisnis perusahaan untuk mempertahankan bisnis ke depan. Rencana ini mencakup tiga strategi mulai dari Ford Blue yang memiliki fokus dalam mobil pembakaran internal agar bisa berkontribusi untuk mengurangi emisi karbon.
Mengacu pada portofolio kendaraan bertenaga gas dan hybrid yang ikonik, termasuk versi turunan model yang menarik seperti truk F-150 dan Ranger serta SUV Bronco, maka Ford Blue menjadi solusi perusahaan untuk tidak langsung terjun ke pasar EV sepenuhnya.
Selanjutnya, Ford Model e merupakan startup dalam Ford yang mengembangkan kendaraan listrik generasi baru yang inovatif dan dapat diperbarui dengan cepat, serta terobosan platform dan perangkat lunak digital seperti teknologi bantuan pengemudi tingkat lanjut Blue Cruise untuk diadopsi di semua produk perusahaan.
Selain itu, Ford juga telah menginvestasikan lebih dari US$50 miliar pada kendaraan listrik secara global hingga 2026 untuk mengembangkan terobosan EV.
Ford berencana untuk memproduksinya sebesar 600.000 kendaraan listrik secara global pada akhir 2023 dan 2 juta pada 2026. Ford, pada pertengahan 2022, telah mengamankan 100 % kapasitas sel baterai tahunan yang diperlukan untuk mendukung target 2023 dan 70 % dibutuhkan untuk mendukung target 2026.
Investasi tersebut juga termasuk dengan Vale Indonesia serta perusahaan Cina Zhenjiang Huayou Cobalt Co yang sepakat berkolaborasi untuk mendanai proyek pengolahan nikel yang akan digunakan untuk baterai electric vehicle atau kendaraan listrik.
Ketiga perusahaan melakukan penyertaan modal di Proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Blok Pomalaa yang dioperasikan oleh PT Kolaka Nickel Indonesia di kawasan industri nikel Blok Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Tunduk pada persetujuan peraturan, proyek tersebut dapat memproduksi hingga 120 kiloton nikel per tahun dalam bentuk endapan hidroksida campuran (MHP), produk nikel berbiaya rendah yang digunakan dalam baterai EV dengan katoda kaya nikel.
