Krisis Penutupan 20 Outlet Qiancheng, Ribuan Pelanggan BYD Terlantar

dealer-BYD-tutup-2024

JAKARTA, AVOLTA – Qiancheng Holdings, jaringan dealer BYD terbesar di China, tutup 20 outlet sekaligus. Ribuan pelanggan kehilangan layanan purna jual dan garansi. Simak penyebab dan dampaknya!


Industri otomotif China kembali diguncang kontroversi. Qiancheng Holdings—jaringan dealer terbesar BYD—baru saja menutup 20 outlet di kota-kota seperti Jinan dan Weifang secara mendadak. Dampaknya, lebih dari 1.000 pelanggan kini terjebak tanpa layanan purna jual, garansi resmi, bahkan paket asuransi yang sudah dibayar lunas.

Insiden ini memicu pertanyaan besar: Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar antara BYD dan mitra dealernya? Dan bagaimana nasib konsumen yang menjadi korban?

Kronologi Penutupan: Fakta yang Terungkap

Menurut laporan Carnewschina, penutupan 20 dealer BYD di bawah naungan Qiancheng Holdings terjadi secara tiba-tiba pada awal Juni 2024. Beberapa fakta kunci yang terungkap:

  • Lokasi Tutup: Sebagian besar dealer berada di wilayah Shandong, termasuk Jinan dan Weifang—kota dengan pasar mobil listrik yang cukup besar.

  • Dampak Langsung:

    • Pelanggan tidak bisa mengklaim garansi resmi untuk perbaikan kendaraan.

    • Paket asuransi 3 tahun dan perawatan berkala yang sudah dibayar menjadi tidak jelas keberadaannya.

  • Respons Konsumen: Terbentuknya kelompok advokasi konsumen untuk menuntut solusi, termasuk ganti rugi.

Penyebab Krisis: Dua Versi yang Bertolak Belakang

1. Tuduhan Qiancheng: BYD Dianggap Berubah Kebijakan

Qiancheng Holdings—pernah menjadi mitra strategis BYD dengan pendapatan tahunan 3 miliar yuan (Rp6,7 triliun)—menyalahkan perubahan kebijakan BYD sebagai pemicu kolapsnya bisnis mereka.

“Kami tidak punya pilihan selain tutup karena kebijakan baru BYD membuat model bisnis dealer tradisional tidak lagi viable,” ujar perwakilan Qiancheng.

2. Bantahan BYD: Ekspansi Terlalu Agresif dengan Modal Utang

BYD membantah keras tudingan tersebut. Dalam pernyataan resminya, BYD menyatakan:

“Masalah Qiancheng murni akibat ekspansi tidak sehat dengan leverage utang tinggi. Kami tetap konsisten dalam kebijakan dealer dan telah memberikan dukungan maksimal.”

Analis industri juga mencatat bahwa Qiancheng terlalu banyak membuka outlet baru dalam waktu singkat, sementara penjualan mobil listrik di beberapa wilayah justru melambat.

Dampak Terbesar: Nasib Pelanggan yang Terjepit

Krisis ini paling dirasakan oleh konsumen setia BYD. Beberapa keluhan yang muncul:

  • Paket Layanan Sudah Dibayar tapi Tidak Bisa Dipakai
    Contoh: Seorang pelanggan di Weifang mengaku sudah membayar 8.000 yuan (Rp18 juta) untuk paket servis 5 tahun, namun kini bengkel resmi tutup.

  • Garansi Tidak Jelas Statusnya
    BYD menyatakan garansi tetap berlaku di dealer lain, tetapi banyak pelanggan mengeluh jarak tempuh ke outlet terdekat terlalu jauh.

  • Kelompok Konsumen Mulai Bergerak
    Beberapa pelanggan telah melaporkan kasus ini ke asosiasi konsumen China dan mengancam gugatan kelas action.

Akar Masalah: Persaingan Sengit & Pergeseran Model Bisnis

Insiden ini bukan sekadar konflik antara BYD dan Qiancheng, melainkan cerminan masalah besar industri otomotif China:

  1. Persaingan Harga yang Tidak Sehat

    • Banyak dealer menawarkan diskon besar-besaran hingga margin profit nyaris hilang.

  2. BYD Fokus pada Penjualan Langsung (Direct Sales)

    • Seperti Tesla, BYD mulai mengurangi ketergantungan pada dealer tradisional dan beralih ke model online order + delivery center.

  3. Regulasi yang Belum Ketat

    • Skema pembayaran paket layanan di dealer seringkali tidak diawasi pemerintah, berisiko tinggi jika dealer bangkrut.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Kasus Ini?

Bagi konsumen di Indonesia dan negara lain yang berminat membeli mobil listrik BYD:

  • Pastikan beli melalui dealer resmi dengan rekam jejak stabil.

  • Hindari paket layanan purna jual berbasis pembayaran di muka.

  • Verifikasi langsung ke BYD pusat mengenai status garansi.

Bagi industri:

  • Dealer perlu beradaptasi dengan model bisnis baru yang lebih sustainable.

  • Produsen seperti BYD harus memastikan transisi dari dealer tradisional ke direct sales tidak merugikan konsumen.

Alarm bagi Industri Otomotif Elektrik

Kasus Qiancheng menjadi pelajaran berharga: Ekspansi agresif tanpa manajemen risiko bisa berujung bencana—terutama untuk konsumen yang menjadi pihak paling rentan.

“Sebelum memutuskan beli mobil listrik, selidiki tidak hanya produknya, tapi juga kekuatan jaringan layanan purna jual di belakangnya.”

Bagaimana pendapat Anda? Apakah produsen otomotif harus lebih bertanggung jawab atas masalah dealer mitra? Sampaikan di komentar!

CATEGORIES
TAGS