LONDON, AVOLTA – Mobil asal Cina khususnya kendaraan listrik (electric vehicle/EV) semakin mendominasi pasar otomotif Inggris. Pertumbuhan penjualan yang cukup pesat membuat pemerintah Inggris mulai mempertimbangkan penerapan tarif khususnya mobil listrik.
Mengutip Carscoops, Rabu (7/10/2026) pemerintah Inggris tengah menyiapkan skema tarif setelah mendapat tekanan dari Uni Eropa. Inggris disebut berpotensi kehilangan akses ke skema “Made in Europe” apabila tidak mengenakan tarif terhadap kendaraan Cina.
Skema tersebut penting bagi industri otomotif Inggris karena berkaitan dengan penjualan kendaraan yang diproduksi di negara tersebut ke pasar Uni Eropa.
Laporan The Sunday Times menyebut Menteri Bisnis Inggris Jonathan Reynolds mulai menyusun paket kebijakan tarif menjelang pertemuan Inggris dan Uni Eropa yang dijadwalkan berlangsung bulan depan.
Selama ini, Inggris cenderung enggan mengikuti kebijakan tarif Uni Eropa terhadap mobil Cina. Namun, lonjakan penjualan merek asal Negeri Tirai Bambu membuat pemerintah mulai mempertimbangkan perubahan kebijakan.
Data penjualan terbaru menunjukkan hampir seperempat mobil baru yang terjual di Inggris pada September berasal dari Tiongkok.
Salah satu model yang mencatatkan performa paling tinggi, yaitu Jaecoo 7. SUV tersebut mencatat penjualan 10.812 unit pada September dan menjadi mobil terlaris di Inggris, bahkan mengungguli Tesla Model 3.
Meningkatnya penjualan merek Cina juga menunjukkan perubahan persaingan di pasar otomotif Inggris. Selain Jaecoo, sejumlah merek seperti Chery dan BYD juga terus memperluas kehadirannya.
Belum diketahui apakah rencana tarif Inggris nantinya hanya menyasar mobil listrik atau juga kendaraan bermesin pembakaran dan hybrid dari Cina.
Perlu diketahui, di Uni Eropa kendaraan listrik buatan Cina saat ini menghadapi tarif hingga 45%. Kebijakan tersebut mendorong sejumlah produsen Tiongkok mengalihkan fokus dari mobil listrik murni ke kendaraan plug-in hybrid.







