Home Cerita Subaru Belum Berani Lepas dari Toyota untuk Mobil Listrik

Subaru Belum Berani Lepas dari Toyota untuk Mobil Listrik

5
0
Toyota memastikan bakal produksi SUV 7 penumpang, bZ5X, hasil kolaborasi lanjutan dengan Subaru. (Toyota Youtube)


TOKYO. AVOLTA
– Subaru dikabarkan menunda pengembangan mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) buatan sendiri. Produsen otomotif asal Jepang itu kini memilih fokus memperkuat kolaborasi dengan Toyota, dalam pengembangan kendaraan listrik di tengah melambatnya pertumbuhan pasar EV global.

Menurut laporan terbaru yang dikutip Carscoops, Senin (18/5/2026), Subaru sebelumnya berencana meluncurkan lini EV mandiri berbasis platform internal pada akhir dekade ini. Namun proyek tersebut kini mengalami penundaan dan diperkirakan baru terealisasi setelah 2028.

Keputusan itu disebut berkaitan dengan tingginya biaya pengembangan kendaraan listrik dan kondisi pasar EV global yang mulai mengalami perlambatan pertumbuhan di beberapa negara.

Selain itu, Subaru juga masih mempertimbangkan strategi elektrifikasi yang paling sesuai dengan karakter konsumennya yang selama ini identik dengan SUV, sistem AWD, dan mesin boxer.

Saat ini perusahaan memang masih sangat bergantung pada Toyota dalam pengembangan kendaraan listrik. Model EV pertama Subaru, yakni Solterra dibangun menggunakan platform e-TNGA milik Toyota dan berbagi basis dengan Toyota bZ4X.

Kerjasama kedua perusahaan diperkirakan akan terus diperluas. Subaru dan Toyota bahkan tengah menyiapkan beberapa model SUV listrik baru yang dijadwalkan meluncur dalam beberapa tahun ke depan. Kendaraan tersebut diperkirakan masih menggunakan platform dan teknologi hasil kolaborasi kedua perusahaan.

Meski menunda proyek EV internal, Subaru tetap berkomitmen terhadap elektrifikasi jangka panjang. Perusahaan menargetkan sekitar 50 % penjualan globalnya berasal dari kendaraan listrik dan hybrid pada awal dekade 2030-an.

Namun dibanding sejumlah rival Jepang lainnya, langkah elektrifikasi Subaru memang tergolong lebih konservatif. Produsen ini memilih bergerak perlahan sambil memanfaatkan kolaborasi dengan Toyota untuk menekan biaya pengembangan teknologi kendaraan listrik.

Selain faktor biaya, perusahaan juga menghadapi tantangan volume produksi. Sebagai produsen dengan skala lebih kecil dibanding Toyota atau Honda, Subaru harus lebih berhati-hati dalam investasi besar untuk pengembangan platform EV mandiri.

Di sisi lain, pasar mobil listrik global memang mulai menunjukkan perlambatan pertumbuhan, terutama di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Beberapa produsen besar bahkan mulai mengatur ulang strategi EV mereka akibat tingginya biaya produksi, persaingan harga dengan merek Cina, serta permintaan konsumen yang belum stabil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here