
BEIJING, AVOLTA – Produsen otomotif Stellantis dan Dongfeng Motor dikabarkan akan membentuk perusahaan patungan baru di Eropa untuk mempercepat ekspansi global merek mobil listrik premium asal Cina, Voyah.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi kedua perusahaan dalam memperluas penetrasi kendaraan listrik China di pasar Eropa yang semakin kompetitif. Demikian melansir laman CarnewsChina, Jumat (22/5/2026).
Menurut laporan, joint venture tersebut akan fokus pada distribusi, penjualan, pemasaran, hingga layanan purnajual Voyah di kawasan Eropa. Perusahaan baru itu nantinya berbasis di Belanda dan akan menjadi pusat operasional ekspansi Voyah di pasar internasional.
Voyah sendiri merupakan merek premium milik Dongfeng Motor yang fokus pada kendaraan listrik dan plug-in hybrid. Brand ini pertama kali diperkenalkan pada 2020 dan kini mulai memperluas pasar ke luar Tiongkok, termasuk Norwegia, Finlandia, Denmark, Belanda, hingga beberapa negara Timur Tengah.
Kolaborasi ini dinilai cukup menarik karena Stellantis selama ini dikenal sebagai grup otomotif besar yang menaungi berbagai merek Eropa dan Amerika seperti Peugeot, Citroen, Fiat, Jeep, Alfa Romeo, Opel, hingga Maserati. Kehadiran Stellantis akan membantu Voyah memanfaatkan jaringan distribusi dan pengalaman pasar otomotif Eropa yang sudah matang.
Selain itu, hubungan Stellantis dan Dongfeng sebenarnya sudah terjalin cukup lama. Dongfeng merupakan salah satu pemegang saham Stellantis melalui kerja sama historis dengan PSA Group sebelum merger dengan Fiat Chrysler Automobiles. Kedua perusahaan juga sebelumnya telah bekerjasama dalam produksi kendaraan di Cina.
Ekspansi Voyah ke Eropa juga terjadi di tengah meningkatnya tekanan terhadap produsen otomotif Cina. Uni Eropa belakangan menerapkan tarif tambahan terhadap mobil listrik buatan Cina karena dianggap mendapat subsidi besar dari pemerintah Tiongkok. Namun sejumlah produsen Cina justru semakin agresif membangun jaringan lokal dan memperkuat kerjasama dengan perusahaan Eropa demi mempertahankan pertumbuhan pasar.
Banyak analis melihat strategi joint venture seperti ini dapat membantu produsen Cina lebih mudah diterima di pasar Eropa. Selain mengurangi hambatan distribusi, kerjasama dengan perusahaan lokal juga membantu membangun kepercayaan konsumen terhadap merek baru asal Cina.


