MARANELLO, AVOLTA – Ferrari tengah menjadi sorotan global setelah memperkenalkan mobil listrik pertamanya bernama Luce. Desain mobil ini menuai kritik tajam dari penggemar otomotif hingga mantan petinggi Ferrari, karena dianggap tidak mencerminkan identitas khas Ferrari.
Namun di balik kontroversi tersebut, pabrikan yang bermarkas di Maranello, Italia itu ternyata memiliki strategi besar untuk merebut kembali pasar Cina yang terus melemah dalam beberapa tahun terakhir. Demikian melansir CarnewsChina, Sabtu (30/5/2026).
Ferrari sengaja membuat Luce berbeda dari Ferrari konvensional. Target utama mobil ini bukan penggemar Ferrari lama, melainkan konsumen kaya yang sudah terbiasa menggunakan kendaraan listrik premium, terutama di Tiongkok.
Chief Marketing and Commercial Officer Ferrari, Enrico Galliera, mengatakan target utama Luce merupakan konsumen yang “sudah memiliki mobil listrik.”
Pernyataan ini dianggap sebagai perubahan besar bagi Ferrari yang selama ini sangat bergantung pada loyalitas pelanggan lama. Pada 2025, sekitar 81 % mobil Ferrari dibeli oleh pelanggan existing Ferrari sendiri.
Mantan Chairman Ferrari, Luca di Montezemolo, bahkan secara terang-terangan menyindir desain Luce. Ia menyebut setidaknya “orang Cina tidak akan meniru mobil ini.” Pernyataan itu langsung viral di media sosial dan memperkuat kontroversi seputar Ferrari Luce.
Sekadar informasi, Luce diperkenalkan di Roma pada 25 Mei 2026 sebagai mobil listrik produksi massal pertama Ferrari. Mobil ini hadir dalam format liftback empat pintu dengan lima kursi dan dikembangkan bersama mantan kepala desain Apple, Jony Ive, melalui studio desain LoveFrom.
Harga mulai dari 550 ribu euro atau sekitar Rp 10 miliar. Perusahaan mengatakan, Cina menjadi pasar yang sangat penting bagi karena penjualan mereka di negara tersebut terus menurun. Pada 2022 menjual sekitar 1.500 unit atau sekitar 11,7 % dari total penjualan global.
Namun pada 2025, angka tersebut turun menjadi sekitar 900 unit atau hanya 6,9 persen dari total penjualan Ferrari dunia.



