Cina Kembangkan Baterai Sodium Generasi Baru

BEIJING, AVOLTA – Industri baterai Cina mulai mengubah arah pengembangan teknologi sodium-ion dengan beralih ke material katoda yang lebih murah sekaligus memiliki umur pakai lebih panjang.
Langkah ini dilakukan seiring dengan upaya menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing terhadap baterai lithium-ion yang selama ini masih mendominasi pasar kendaraan listrik. Demikian dikutip CarnewsChina, Senin (13/4/2026).
Perubahan ini menandai fase baru dalam evolusi baterai sodium-ion. Jika sebelumnya industri banyak mengandalkan material katoda generasi lama yang cenderung mahal dan kurang efisien, kini produsen mulai mengadopsi komposisi baru berbasis material yang lebih ekonomis dan stabil untuk penggunaan jangka panjang.
Pergeseran ini juga menjadi indikasi bahwa teknologi lama secara bertahap mulai ditinggalkan. Secara umum, baterai sodium-ion memang menawarkan keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku.
Sodium jauh lebih melimpah dibandingkan lithium, sehingga berpotensi mengurangi ketergantungan pada rantai pasok mineral langka sekaligus menekan biaya produksi dalam jangka panjang.
Selain itu, baterai jenis ini juga dikenal memiliki performa lebih baik pada suhu rendah, menjadikannya cocok untuk berbagai kondisi iklim.
Penggunaan material katoda baru menjadi kunci dalam peningkatan performa. Dengan struktur kimia yang lebih stabil, baterai tidak hanya menjadi lebih tahan lama, tetapi juga mampu mempertahankan kapasitas dalam siklus pengisian yang lebih banyak.
Hal ini penting untuk meningkatkan umur pakai kendaraan listrik sekaligus menekan biaya kepemilikan bagi konsumen.
Dari sisi industri, perubahan ini juga didorong oleh tekanan biaya yang terus meningkat pada baterai lithium-ion, terutama akibat fluktuasi harga lithium. Dengan mengadopsi teknologi sodium-ion yang lebih murah, produsen dapat menawarkan kendaraan listrik dengan harga lebih kompetitif, khususnya di segmen entry-level.
Meski begitu, baterai sodium-ion masih memiliki sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kepadatan energi yang umumnya masih lebih rendah dibandingkan baterai lithium-ion, sehingga berpengaruh pada jarak tempuh kendaraan listrik. Namun, dengan pengembangan material baru, kesenjangan ini perlahan mulai diperkecil.
