Tarif AS Molor, Toyota hingga Nissan Boncos Rp 330 Miliar per Hari

JAKARTA, AVOLTA – Tujuh produsen mobil asal Jepang, termasuk Toyota, Honda, dan Nissan, menghadapi kerugian besar yang diperkirakan mencapai Rp 330 miliar per hari.
Situasi ini terjadi karena Amerika Serikat belum juga menerapkan tarif impor baru sebesar 15 persen, seperti yang telah direncanakan. Penundaan ini membuat beban biaya tambahan terus membengkak, padahal kebijakan tarif tersebut seharusnya bisa membantu menekan tekanan finansial yang dihadapi di pasar Negeri Paman Sam.
Disitat dari Asia Nikkei, dampak keterlambatan ini terasa nyata pada laporan kinerja perusahaan. Toyota sebelumnya memperkirakan kebijakan tarif bakal memangkas pendapatan operasional hingga 1,4 triliun yen atau sekitar Rp 224 triliun, sekaligus menurunkan proyeksi laba tahunannya sebesar 16%.
Honda pun tidak luput dari tekanan, dengan penurunan laba kuartalan hingga setengahnya, dan total beban tarif yang diperkirakan mencapai 450 miliar yen, meski perusahaan tersebut masih berharap ada sedikit perbaikan di kuartal akhir.
Pabrik Nissan di Sunderland, Inggris, merakit mobil listrik Leaf. (Nissan)
Sementara itu, Nissan bahkan harus mengambil langkah drastis untuk bertahan. Selain menghadapi potensi beban tarif hingga 450 miliar yen, dan berencana memangkas sekitar 15% tenaga kerja global atau sekitar 20.000 pegawai.
Jumlah pabrik juga akan dikurangi dari 17 menjadi hanya 10, sebagai bagian dari strategi efisiensi untuk menghadapi gempuran kebijakan perdagangan AS yang belum pasti.
Ketidakpastian ini membuat produsen mobil Jepang berada dalam posisi sulit. Toyota disebut memangkas prediksi laba operasionalnya hingga sepertiga, sementara Honda dan pabrikan lainnya terus memantau perkembangan aturan tarif sambil mencari cara untuk meredam dampak, mulai dari mengubah strategi produksi hingga menyesuaikan struktur biaya.
Meski situasinya menekan, beberapa perusahaan mencoba mengalihkan sebagian produksi ke Amerika Serikat untuk mengurangi risiko tarif. Namun, langkah ini belum mampu menghapus kekhawatiran sepenuhnya.
Selama kebijakan baru belum jelas kapan berlaku, stabilitas finansial para raksasa otomotif Jepang akan tetap berada dalam bayang-bayang ketidakpastian.
