Stasiun Pengisian Hidrogen Pertama di Indonesia

JAKARTA, AVOLTA – Mobil berbahan bakar hidrogen dipercaya akan menjadi masa depan di industri otomotif, selain teknologi hybrid dan listrik murni berbasis baterai. Alasannya sama-sama bisa membantu menurunkan emisi gas buang sehingga jadi ramah lingkungan.
PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PLN melalui subholding PLN Indonesia Power meresmikan stasiun pengisian hidrogen atau Hydrogen Refueling Station (HRS) di Senayan, Jakarta.
Fasilitas ini menjadi stasiun pengisian hidrogen kendaraan pertama di Indonesia. Proyek ini sebagai lanjutan pemanfaatan hasil produksi hidrogen hijau dari 21 Green Hydrogen Plant yang telah beroperasi sejak November 2023.
Total dari 22 unit hydrogen plant yang ada, total kemampuan produksi hidrogennya sebanyak 203 ton per tahun dengan excess produksi sebesar 128 ton per tahun.
Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, stasiun ini sekaligus Hydrogen Center. Dia mengungkapkan, peresmian HRS ini baru sebagai pilot project untuk proyek hidrogen lainnya di Indonesia. Untuk selanjutnya, PLN akan mendalami visibility secara teknis, operasional, serta komersial dan regulasinya.
“Teknologi yaitu green hydrogen menggunakan fuel cells. PLN siap mendukung green transportation transformation, baik itu EV (electrical vehicle) maupun fuel cells. Untuk itu, kami bangga beberapa bulan yang lalu kami sudah meresmikan produksi hidrogen yang ada di Muara Tawar, Muara Karang dan Tanjung Priuk,” ujar Darmawan belum lama ini di Jakarta.
Darmawan mengatakan, biaya untuk kendaraan dengan sumber energi hidrogen lebih murah daripada kendaraan bersumber energi lain. Misalnya seperti sumber energi fosil atau Bahan Bakar Minyak atau BBM.
Dia menyebut, kendaraan yang menggunakan BBM butuh Rp 1.300 per km. Selain itu, BBM juga masih butuh impor. Lain halnya dengan sumber energi hidrogen yang bisa diproduksi sendiri di dalam negeri.
