Investasi Abu-Abu, Tesla Tetap Ngarep Nikel Indonesia

JAKARTA, AVOLTA – Pabrikan mobil listrik asal Amerika Serikat (AS), Tesla sepertinya masih konsisten abu-abu soal rencana investasi pabrik mobil listrik di Indonesia. Tapi, merek mobil listrik AS itu tetap berharap bisa ikut menikmati hasil bumi Indonesia, nikel.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan sudah tak ambil pusing, jika benar Tesla gagal berinvestasi di Indonesia. Pasalnya, pasar otomotif Tanah Air, sudah mendapatkan investasi dari BYD, untuk membangun ekosistem EV.
“Tesla? Kita sudah ada BYD kok, BYD juga enggak jelek, bagus. Kalau Tesla enggak mau datang, ya silahkan juga,” ujar Luhut, di kantornya, seperti disitat dari Liputan6.com, Kamis (8/2/2024).
Meskipun begitu, Tesla masih disebut Luhut tetap bakal membeli produk turunan nikel dari proyek Smelter yang dikerjakan PT Vale Indonesia, di Sulawesi.
“Dia (Tesla) mau masuk nanti di Vale yang di-joint dengan Ford, dia mau beli mungkin produk mereka itu,” ucap Luhut.
Seperti diketahui, Tesla pada 2022 lalu telah menandatangani kesepakatan jangka panjang baru dengan dua pemasok bahan baterai asal Cina, yaitu Zhejiang Huayou Cobalt Co dan CNGR Advanced Material Co.
Huayou Cobalt akan memasok bahan ke Tesla mulai 1 Juli 2022 hingga akhir 2025. Harga produk akan dikenakan harga pasar untuk nikel, kobalt dan mangan, serta biaya pemurnian. CNGR akan memasok mobil kendaraan listrik antara 2023 dan 2025.
