
BEIJING, AVOLTA – Penggunaan material dan teknologi pada baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sedang menjadi sorotan. Para produsen berlomba menghadirkan yang terbaik untuk konsumen, salah satunya soal daya jelajah dan kecepatan dalam pengisian daya.
Saat ini sebagian pabrikan sudah mulai meninggalkan baterai litium dan beralih ke nikel hingga lithium ferro phospate (LFP) karena dianggap lebih menguntungkan.
Akan tetapi mengutip laman IFLScience, Sabtu (10/2/2024), para insinyur di Cina berhasil mengembangkan baterai litium menggunakan teknologi baru dengan elektroda yang lebih baik yang dapat mengubah kecepatan pengisian daya secara signifikan. Diklaim baterai bisa terisi penuh dengan waktu kurang dari 5 menit.
Selain itu, baterai litium terbaru ini juga diklaim lebih cepat dibandingkan baterai apa pun yang ada di pasaran saat ini. Bahkan jika dibandingkan dengan teknologi baterai kendaraan listrik masih jauh lebih baik.
Para peneliti mengamati sistem yang memiliki asimetri antara pengisian dan pengosongan. Tentunya membutuhkannya untuk mengisi daya dengan sangat cepat sementara pemakaiannya sangat lambat.
Bahkan, peneliti itu juga mengamati laju terjadinya reaksi kimia dibandingkan dengan laju gerak bahan kimia tertentu untuk mencapai tempat reaksi.
Para ilmuan menemukan bahwa indium adalah logam yang menarik untuk digunakan dalam baterai Ia bergerak cukup cepat, tetapi memiliki kinetika reaksi permukaan yang lambat, sehingga dapat diisi dengan cukup cepat dan dilepaskan dengan lambat. Karakteristik itulah yang membuatnya jadi pilihan.
“Tujuan kami adalah menciptakan desain elektroda baterai yang dapat diisi dan dikosongkan dengan cara yang selaras dengan rutinitas sehari-hari,” kata penulis utama, Shuo Jin, dari Cornell University, dalam sebuah pernyataan.



