Batu Bara Tak Sejalan dengan Pengembangan EV

JAKARTA, AVOLTA – Pemerintah Indonesia sedang mengakselerasi penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV). Tujuannya untuk mencapai net zero emission pada 2050.
Guna mencapai tujuan itu tentunya pengembangan ekosistem kendaraan listrik harus benar-benar diperhatikan setidaknya memperhatikan sumber listriknya. Terpenting PLTU masih menggunakan batu bara sebagai sumber energi untuk mengisi daya baterai.
Yannes Martinus Pasaribu pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menuturkan, dengan memanfaatkan energi terbarukan seperti air atau surya dalam proses produksi listrik untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik, Indonesia dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Menurut dia, pemanfaatan energi terbarukan sebagai penghasil listrik juga dapat mengurangi secara perlahan 61% sumber listrik dari pembangkit listrik tenaga uap batu bara yang bersifat polutif.
“(Pemanfaatan energi terbarukan) mengurangi secara perlahan 61 persen sumber listrik Indonesia dari PLTU batu bara yang walaupun murah, tetapi, sangat polutif, yang tampaknya tidak sejalan dengan logika tujuan pengembangan EV (kendaraan listrik) jika ditujukan sebagai kendaraan bersih polusi tersebut,” ujar Yannes belum lama ini di Jakarta.
Selain itu, strategi paling ekonomis untuk mengembangkan pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia dapat melibatkan beberapa langkah transisi jangka panjang, misalnya mulai menurunkan kapasitas PLTU batu bara secara bertahap dan menggantinya dengan sumber energi terbarukan.
“Indonesia dapat memanfaatkan energi alternatif yang terbarukan serta ramah lingkungan seperti tenaga surya dan panas bumi,” tutur Yannes.
