Imbangi BEV, Eropa Pilih e-Fuel untuk ICE

Proses produksi Toyota Mirai di pabrik Toyota di Jepang. (Toyota)
BERLIN, AVOLTA – Penggunaan kendaraan listrik yang ramah lingkungan terus didorong oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun produsen otomotif. Namun, kini muncul juga alternatif lain, guna mendorong target netralitas karbon, yaitu penggunaan bahan bakar e-Fuel.
Alternatif pilihan penggunaan bahan bakar e-Fuel ini muncul, karena adanya peraturan emisi yang lebih ketat yang dikeluarkan Uni Eropa, dan melarang mobil bertenaga bensin dan diesel pada 2035. Kemudian, salah satu negara di benua biru ini, yaitu Jerman harus ada alternatif penggunaan teknologi nol emisi lainnya, seperti dari sisi bahan bakar.
Bahkan, Jerman meminta Komisi Eropa (EC) untuk mengajukan proposal tentang bagaimana mesin pembakaran dapat terus berjalan dengan bahan bakar elektronik setelah tahun 2035. Demikian disitat dari laman Bisnis.com, ditulis Jumat (26/5/2023).
Kemudian, pada Maret, Jerman mencapai kesepakatand engan EC untuk tetap menjual kendaraan konvensional dengan bahan bakar e-Fuel. Namun, kesepakatan tersebut, kemudian menimbulkan masalah baru, terkait kelayakan, biaya, realitas, dan jangka panjang dari kendaraan bertenaga e-Fuel.
Di Jerman, dukungan penggunaan e-fuel datang dari sekitar 800.000 pekerjaan yang saat ini masih mengandalkan produksi kendaraan bermesin bakar. Jika kondisi pasar dan aturan produksi tepat, bahan bakar elektronik dapat mulai diproduksi pada tahun 2025 dan terus ditingkatkan untuk memungkinkan penggantian bahan bakar konvensional pada tahun 2050,” kata aliansi industri e-Fuel.
Namun, sebagian pabrikan ternyata lebih memilih untuk peralihan teknologi kendaraan ramah lingkungan, dibanding penggunaan bahan bakar sintetis. Salah satunya Audi, yang mengatakan bahan bakar jenis tersebut tidak akan bertahan lama.
Sedangkan Analisis oleh LSM Transportasi & Lingkungan (T&E) menyampaikan bahan bakar sintetik hanya akan cukup untuk sekitar 2% mobil Eropa. Itu berarti hanya 5 juta dari 287 juta mobil yang diproyeksikan UE dapat berjalan dengan bahan bakar ini.
