LG Mau Tambah Investasi Baterai di AS Lagi

NEW YORK, AVOLTA – Pengembangan ekosistem kendaraan listrik, termasuk baterai di dalamnya terus dilakukan oleh berbagai negara. Salah satunya, adalah Korea Selatan, yang mengatakan akan memberikan US$5,32 miliar atau setara Rp 79 triliun guna mendorong produsen baterai di Amerika Utara selama lima tahun ke depan.
Disitat dari Reuters, Minggu (8/4/2023), investasi tersebut, bertujuan membantu perusahaan mengatasi Undang-Undang Pengurangan Inflasi AS (Inflation Reduction Act/IRA).
“Dukungan pemerintah akan mencakup penurunan suku bunga pinjaman dan premi asuransi sebanyak 20% serta memberikan lebih banyak pinjaman dan kredit pajak untuk fasilitas produksi baterai dan material perusahaan Korea di wilayah tersebut,” kata Kementerian Industri Korea Selatan, disitat dari Bisnis.com, Senin (10/4/2023).

Baterai buatan LG yang digunakan di sebuah mobil – dok.Istimewa via Breaking The News
Sementara itu, pada November lalu, Negeri Ginseng juga meluncurkan aliansi baterai yang didukung pemerintah untuk sumber logam utama yang lebih baik, yang saat ini didominasi oleh Cina.
LG Energy Solution Ltd (LGES), Samsung SDI Co Ltd, dan SK On menjadi tiga dari lima pembuat sel baterai kendaraan listrik terbesar di dunia, dan menguasai lebih dari seperempat pasar dunia.
Sedangkan bulan lalu, LGES mengatakan akan melanjutkan proyek baterai di AS yang sempat terhenti, dengan investasi US$5,6 miliar di Arizona untuk memenuhi syarat mendapatkan insentif federal berdasarkan UU Pengurangan Inflasi.
Di Indonesia sendiri, LGES juga masih dalam proses negosiasi untuk membangun pabrik baterai. Meskipun ada masalah terkait pergantian konsorsium di tubuh LGES, tapi dipastikan proyek patungan dengan Indonesia Battery Corporation (IBC) tetap berjalan meskipun molor dari waktu yang seharusnya.
Corporate Secretary IBC, Muhammad Sabik menjelaskan, dengan adanya pergantian manajeman di sebuah perusahaan, maka wajar beberapa kesepakatan menjadi tertunda.
“Sama lah kayak kita, misalkan dalam suatu perusahaan ada yang ganti manajemen. Kemudian, beberapa kerja sama ada yang delay, kan wajar. Di mereka juga ada pergantian konsorsiumnya, jadi wajar-wajar saja,” jelas Sabik beberapa waktu lalu.
