Ada Anjuran Beli Mobil Listrik Baru Ketimbang Konversi

Toyota Avanza listrik Atta Halilintar (Ist)

JAKARTA, AVOLTA – Percepat penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai, pemerintah tengah mendorong konversi kendaraan konvensional menjadi listrik. Bahkan aturan terkait hal tersebut, telah dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan, baik untuk sepeda motor dan juga mobil.

Program konversi kendaraan listrik dari Kementerian Perhubungan ini, tentu saja didukung oleh beberapa kementerian lainnya, termasuk perindustrian. Namun, ada satu hal yang disorot terkait konversi sepeda motor atau mobil listrik ini, yaitu faktor keselamatan dan kontribusi nilai industri di dalam negeri.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Taufiek Bawazier mengatakan, masyarakat lebih bagus membeli kendaraan listrik baru yang memang diproduksi di Indonesia.

“Kalau dari sisi industri, dalam artian beli baru itu lebih bagus,” ujar Taufiek, seperti disitat dari CNN Indonesia, ditulis Senin (10/10/2022).

Dengan membeli unit baru, artinya memilih kendaraan listrik yang dibuat di pabrik yang melibatkan banyak pekerja dan jika pembelian besar, maka roda industri terus berjalan di Indonesia.

Yamaha RX-Kimg konversi jadi motor lstrik. (Rangga/Otomotifnet)

Sementara itu, Kemenhub sendiri memiliki alternatif bagi masyarakat yang hendak merasakan menggunakan kendaraan listrik, dengan melakukan konversi dari kendaraan yang sudah ada. Bahkan, aturannya sendiri sudah diterbitkan sejak 2020 untuk konversi motor listrik dan kemudian menyusul pada 2022 terkait konversi mobil listrik.

Aturan ini mendukung bengkel umum dan UMKM yang tersertifikasi melakukan konversi kendaraan listrik. Produk hasil konversi perlu lulus uji tipe di Kemenhub sebelum bisa digunakan di jalan oleh konsumen.

Tidak hanya soal kedalaman industri, Taufiek juga menyinggung soal faktor keselamatan produk konversi kendaraan listrik. “Kalau ada apa-apa di jalan, yang bertanggung jawab siapa. kalau naik mobil ini (konversi) lepas sendiri nabrak orang kan tidak bagus,” ujarnya lagi.

Begitu juga soal waktu, karena ketika memilih untuk konversi kendaraan listrik masyarakat harus menunggu kendaraan listrik bisa dipakai. Padahal, konsumen di Indonesia itu, dikatakan oleh Taufiek ingin sesuatu yang cepat atau instan. Namun, sekali lagi, Taufiek tetap mendukung program konversi kendaraan listrik ini berjalan di Indonesia.

“Itu (konversi EV) harus hidup, itu kan skill. Artinya itu juga kami bina. Karena tetap ada nilai. Jadi yang katakan motor tua, dalam artian kan di perbarui dengan baterai listrik tidak apa-apa, bagus juga,” pungkasnya.

CATEGORIES
TAGS