Litium Impor, Indonesia Jangan Mimpi Jadi Produsen Baterai

Desain baterai pada BMW Ix, mobil listrik baru. (BMW)
JAKARTA, AVOLTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, bahwa Indonesia merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Maka dari itu, bisa menjadi modal untuk menciptakan ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri, bahkan berpotensi tumbuh besar seiring perkembangan kendaraan listrik.
Menanggapi pernyataan tersebut, Anggota Komisi VII DPR Fraksi PKB Syaikhul Islam menjelaskan, seharusnya bukan nikel yang diandalkan pemerintah Indonesia, tapi keberadaan litium.
“Terkait ambisi kita jadi produsen baterai litium terbesar di dunia, yang kita banggakan itu, dengan bermodalkan nikel saja, itu saya kira tidak tepat. Karena justru yang lebih penting dari bahan baterai itu lithium yang kita tidak punya,” kata Syaikhul dalam rapat kerja bersama Kementerian ESDM belum lama ini.
Syaikhul melanjutkan, bahkan sejauh ini Indonesia masih mengimpor litium dan belum memiliki tambang mineral tersebut. Akan tetapi, Indonesia memiliki potensi litium, yaitu di kawasan Lumpur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur.
“Saya ingin tegaskan, di tempat saya, ada potensi litium. Di mana? Di Lumpur Lapindo. Saya ingin kutip statement Kepala Badan Geologi ESDM, kalau di Lumpur Lapindo di Sidoarjo ada potensi dua mineral berharga, yaitu litium dan stronsium,” ungkap dia.
Sebelumnya, Menteri Investasi atau Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyampaikan proyek investasi industri baterai listrik terintegrasi di Indonesia dimulai dari pertambangan dan peleburan (smelter) nikel yang berlokasi di Halmahera, Maluku Utara.
Selanjutnya, berlanjut dengan industri pemurnian (refinery), industri prekursor dan katoda, serta perluasan industri sel baterai yang akan dibangun di KIT Batang, Jawa Tengah, hingga industri daur ulang baterai listriknya.
