BEIJING, AVOLTA – Hyundai kembali membuat gebrakan di pasar otomotif Cina dengan menghadirkan model terbaru bernama Ioniq V. Menariknya, model ini tidak hanya tersedia dalam versi listrik murni/BEV, tetapi hadir dalam varian extended-range electric vehicle (EREV) yang menggabungkan motor listrik dengan mesin bensin sebagai generator tambahan.
Model tersebut kini sudah masuk dalam dokumen regulasi kendaraan Cina, menandakan peluncuran resminya semakin dekat. Demikian melansir CarnewsChina, Selasa (12/5/2026).
Ioniq V merupakan sedan fastback listrik berukuran besar yang dikembangkan khusus untuk pasar Tiongkok. Mobil ini menjadi model pertama dari sub-brand Ioniq di Cina dan menjadi bagian dari strategi besar Hyundai untuk bangkit di pasar otomotif terbesar dunia tersebut.
Secara desain, tampil sangat berbeda dibanding lini Ioniq global seperti Ioniq 5 dan Ioniq 6. Mobil ini mengusung desain fastback rendah dengan siluet aerodinamis dan tampilan lebih futuristis.
Hyundai menyebut bahasa desain baru ini sebagai “The Origin”. Beberapa detail mencolok meliputi pintu frameless, velg aerodinamis besar, serta lampu belakang full-width bergaya “star-track” yang membentang horizontal.
Dimensi mobil ini juga cukup besar, yaitu memiliki panjang sekitar 4.900 mm, lebar 1.890 mm, tinggi 1.470 mm, dengan wheelbase mencapai 2.900 mm. Ukuran tersebut membuat Ioniq V masuk ke segmen sedan premium menengah hingga besar yang saat ini sangat kompetitif di Cina.
Salah satu sorotan utama dari Ioniq V adalah penggunaan arsitektur kelistrikan 800V yang mendukung pengisian daya super cepat. Teknologi ini sebelumnya hanya banyak ditemukan pada mobil listrik premium seperti Hyundai Ioniq 5, Kia EV6, hingga Porsche Taycan.
Varian BEV, Hyundai mengklaim Ioniq V mampu menempuh jarak lebih dari 600 km berdasarkan standar CLTC Cina. Mobil ini menggunakan baterai dari CATL, produsen baterai terbesar dunia yang kini menjadi salah satu partner strategis Hyundai untuk pengembangan EV dan EREV di Tiongkok.
Paling menarik hadirnya opsi EREV. Teknologi ini memungkinkan mobil tetap bergerak menggunakan motor listrik, namun dibantu mesin bensin sebagai generator pengisi daya baterai saat tenaga mulai menipis.
Konsep tersebut kini semakin populer di Cina karena dianggap mampu mengatasi kekhawatiran konsumen terhadap keterbatasan charging station dan jarak tempuh mobil listrik murni.




