JD Power: Perang Harga Mereduksi Kualitas Mobil Baru Cina

JAKARTA, AVOLTA – JD Power merilis survei dari China Initial Quality Study (IQS) 2025, yang memperlihatkan penurunan signifikan kualitas awal mobil baru di Negeri Tirai Bambu. Jumlah masalah yang dilaporkan pemilik meningkat menjadi 229 per 100 kendaraan (PP100), naik cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
Temuan ini memberi sinyal bahwa strategi perang harga yang semakin ketat, dan mulai menekan kualitas dan konsistensi produksi di industri otomotif Tiongkok.
Peningkatan masalah terjadi di hampir semua segmen kendaraan berbahan bakar internal (ICE). Model ini mencatat kenaikan 18 PP100, pasar massal juga bertambah 18 PP100, sementara segmen premium naik 13 PP100. Data tersebut memperlihatkan bahwa meskipun produsen gencar menghadirkan model baru dengan harga kompetitif, pengawasan terhadap mutu dan performa pengiriman justru tergerus.
Tren penurunan kualitas juga diperburuk oleh hadirnya fitur pintar yang ditambahkan untuk model ICE. Dari sembilan kategori masalah yang diteliti, delapan di antaranya mengalami peningkatan, dengan pengecualian pada bagian powertrain.
Keluhan terbanyak berasal dari sistem infotainment yang naik 5,2 PP100, kursi 3,3 PP100, dan fitur bantuan pengemudi 1,8 PP100.
Banyak pemilik mobil melaporkan masalah pada interaksi manusia dengan mesin, termasuk pengenalan suara yang kurang akurat, kendali layar sentuh yang lambat, hingga konektivitas Bluetooth yang kerap bermasalah. Semua itu menurunkan kenyamanan, terutama pada fungsi-fungsi yang sering digunakan sehari-hari.
Elvis Yang, General Manager Auto Product Practice JD Power China, menekankan pentingnya langkah cepat dari pabrikan. Bagaimana mempertahankan pangsa pasar dan meningkatkan kualitas yang dirasakan di tengah transformasi energi baru, adalah isu penting yang harus diselesaikan oleh produsen mobil ICE dalam beberapa tahun ke depan.
“Saat ini, prioritas utama adalah mengoptimalkan pengalaman berkendara dari konfigurasi teknologi, fokus pada skenario penggunaan berfrekuensi tinggi oleh pengguna, serta berupaya mengatasi masalah yang sangat dirasakan konsumen seperti salah identifikasi dan respons yang lambat,” ungkapnya, dalam keterangan resmi, Kamis (4/9/2025).
