Bahlil Sebut Industri EV Dunia Bergantung pada Indonesia

Ilustrasi baterai pada mobil listrik BMW. (BMW/drive.com)
JAKARTA, AVOLTA – Indonesia disebut oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil lahadalia, akan menjadi faktor penentu utama dari industri mobil listrik dunia. Hal tersebut, tak lepas dari kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, seperti nikel di dalam negeri.
“Sekarang ketika dunia berbicara green energy dan green industry, Indonesia itu mempunyai keunggulan komparatif yang tidak banyak dimiliki oleh negara negara lain,” ujar Bahlil, disitat dari Antara, ditulis Jumat (18/10/2024).
Bahlil juga menyebutkan, keunggulan yang cukup besar yang dimiliki Indonesia, tentu saja adalah cadangan nikel dunia. Di mana, pada 2023, menurut data Geologi Amerika mengatakan bahwa Indonesia memiliki 20% cadangan nikel di dunia.
“Tapi empat bulan yang lalu data Geologi Amerika itu mengatakan bahwa kita cadangan nikel dunia itu 40% sampai 45%,” ujarnya.
Seperti yang diketahui, nikel merupakan komponen kunci untuk memproduksi baterai kendaraan listrik, yang kini menjadi fokus dunia seiring dengan peralihan dari energi fosil menuju energi terbarukan.

Terlebih, saat ini hampir semua dunia bicara tentang mobil listrik, meninggalkan bahan bakar fosil.
Dia menyebutkan bahwa bahan baku mobil listrik 60% merupakan komponen mobil, sedangkan 40% adalah baterainya. Dari sisi baterai komponen terdiri atas empat yakni mangan, kobalt, litium dan nikel.
“Dari empat itu 80% nikel, nah kita di Indonesia punya tiga cadangan, nikel, mangan, kobalt, yang kita nggak punya litium,” ujarnya.
Sementara itu, Bahlil juga mengatakan dengan cadangan besar nikel, mangan, dan kobalt, Indonesia menjadi salah satu negara strategis dalam rantai pasokan global untuk industri kendaraan listrik dan teknologi energi hijau.
