Dihujat Lambat Kembangkan EV, Ini Jawaban Toyota

Berbagai model andalan Toyota berteknologi PHEV dan BEV pakai platform e-TNGA. (Toyota)
JAKARTA, AVOLTA – Toyota Motor Corp (TMC) dihujat banyak kritik dari berbagai kalangan, termasuk aktivis lingkungan, lantaran dinilai lambat dalam mengembangkan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berbasis baterai. Jenama otomotif asal Jepang itu seharusnya bisa unggul dari pesaing di segmen elektrifikasi.
Melansir laman Bloomberg, Selasa (23/5/2023), di tengah pertemuan para pemimpin negara-negara maju G7 di Hiroshima, Jepang, manajemen kunci Toyota pun angkat bicara soal banyak kritikan itu.
Menurut peneliti Utama Toyota Gill Pratt, transisi kepada kendaraan listrik sepenuhnya dalam waktu terlalu cepat akan kontraproduktif terhadap upaya mengikis karbon. Upaya singkat transisi menuju elektrifikasi bakal berbuah minimnya konsumen yang beralih.
Alih-alih membeli EV yang harganya masih tinggi, konsumen malah mempertahankan mobil ICE yang boros bahan bakar. Toyota menawarkan konsep untuk model mobil hybrid (HEV) selama masa transisi itu kepada para pemimpin G7 sebagai bahasan pertemuan puncak.

Bos Toyota Akui Pengembangan Baterai EV Masih Butuh Waktu (ist)
“Subsidi dan pembatasan yang menargetkan mobil pembakaran akan membuat EV menarik bagi pelanggan yang mampu membelinya, tetapi kendaraan berbahan bakar bensin-listrik [HEV] tetap lebih cocok untuk konsumen lain,” ungkap pria yang menjabat Kepala Tim Ilmuwan itu.
Namun, sejumlah pihak menilai bahwa pernyataan seperti ini merupakan argumen yang seringkali diulang Toyota.
Pabrikan itu dianggap selalu beralasan bahwa transisi ke kendaraan listrik sepenuhnya akan memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan orang, dan bahwa pendekatan multipel yang mencakup hibrida dan alternatif lain akan mengurangi emisi lebih cepat untuk sementara waktu.
Kelompok lingkungan mengkritik Toyota karena terlalu lama menggunakan listrik sepenuhnya dan membiarkan Tesla Inc. Elon Musk dan BYD Co. Cina memimpin EV.
