Bocoran Baru Mobil Hybrid Lokal Toyota Rp 300 Jutaan

Toyota Yaris Cross GR. (Toyota)
JAKARTA, AVOLTA – Toyota telah memastikan bakal meluncurkan mobil hybrid produksi lokal baru untuk pasar Indonesia. Namun, kendaraan ramah lingkungan tersebut, diyakini bakal berbanderol lebih murah dibandingkan Kijang Innova Zenix Hybrid, yang memang telah hadir terlebih dahulu di Tanah Air.
Sebelumnya, memang sudah dibocorkan jika raksasa otomotif asal Jepang ini, membidik segmen kendaraan A atau B, yaitu mobil dengan banderol Rp 300 jutaan.
“Kita akan mengarah ke sana, karena di segmen Rp 400 juta ke bawah itu segmen mayoritas customer kita. Jadi, tentu saja kita juga studi untuk ke arah sana,” tegas Vice President Director PT TAM, Henry Tanoto, saat ditemui di bilangan Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Sementara itu, hal tersebut juga diperkuat dengan pernyataan dari Warih Andang Tjahjono, Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), yang tidak menampik jika potensi di segmen tersebut cukup besar, dan juga bisa menjadi garapan ekspor terbaru.
“Segmen B harga Rp 200 juta sampai Rp 300 juta menarik, karena sangat besar. Kita juga bisa melakukan ekspor ke beberapa wilayah selatan-selatan itu, kan sebenarnya jadi area kita,” tegas Warih saat ditemui di bilangan Jakarta Selatan, belum lama ini.
Wilayah yang dimaksud, adalah negara yang memang sudah menjadi tujuan pengiriman mobil produksi Indonesia, seperti Amerika Selatan, Afrika Selatan dan Australia.

fitur pre-collision warning di all new Toyota Veloz (Ist)
Sementara itu, jika dilihat dari segmen B yang dimaksud, memang pilihannya cukup luas, seperti Yaris, Vios, Avanza/Veloz, ataupun Rush. Namun, dari kabar yang beredar, ada dua model yang bisa dijadikan kendaraan terbaru Toyota, yaitu Yaris Cross atau Veloz.
Kemudian, Warih juga membeberkan kompetisi yang ketat di segmen B, karena memang pasarnya dominan dengan harga yang paling digemari konsumen Indonesia.
“Sementara segmen C yang ditempati Fortuner dan Innova, lebih profitability, masih bagus secara bisnis. Oleh karena itu, kita tidak bisa mengabaikan segmen C walau tidak dominan, hanya beberapa negara saja yang ada, seperti Thailand, Indonesia, Australia, dan Singapura,” tegas Warih.
