Insentif Motor Listrik Sulit Jalan Sendirian

Baterai motor listrik Honda pada motor listrik Benly. (Honda)

JAKARTA, AVOLTA – Pemerintah terus mendorong transisi penggunaan kendaraan elektrifikasi, baik mobil maupun motor. Berbagai cara dilakukan, termasuk memberikan insentif untuk pembelian roda empat dan roda dua listrik di Indonesia.

Pengamat Otomotif, dan juga Akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, pemberian insentif untuk pembelian sepeda motor listrik tidak akan berjalan efektif jika tanpa dorongan program pendukung lainnya.

“Insentif tidak bisa dijalankan secara mandiri, harus didukung dengan berbagai program,” ujar Yannes, seperti dilaporkan Tribunnews.com, Jumat (10/2/2023).

Program pendukung yang dimaksud Yannes, misalnya adanya kepastian insentif penambahan daya di rumah yang menggunakan listrik 450 watt sampai 900 watt, dengan waktu pengisian baterai 4 jam.

Sementara itu, pemerintah juga jangan hanya fokus dalam pemberian insentif. Pasalnya, masih ada tantangan yang harus diselesaikan untuk mendorong target nol emisi karbon melalu kendaraan listrik ini bisa tercapai.

Motor listrik Alva One salah satu pendatang baru di Indonesia. (Alva)

Yannes melanjutkan, memang ada empat tantangan yang akan dihadapi industri sepeda motor listrik saat insentif tidak dipikirkan secara matang, terutama soal baterai yang belum standar.

“Kualitas baterai yang buruk berpotensi tidak dapat menyimpan daya listrik yang cukup untuk sepeda motor listrik untuk menempuh jarak minimum standar 40 Km sampai 50 Km dalam sekali pengisian,” tegas Yannes.

Kemudian, tantangan kedua adalah kualitas baterai yang buruk berpotensi meledak, dan terbakar. Ketiga, kualitas kontroler yang buruk juga berpotensi sepeda motor bisa bermasalah.

Keempat, kualitas drivetrain juga membuat sepeda motor listrik cepat rusak, dan baterai cepat habis.

CATEGORIES
TAGS