Pengguna EV, Jangan Sering Pakai Fast Charging!

Nio meluncurkan cas ultra cepat bertenaga 500 kW. (nio)
JAKARTA, AVOLTA – Pengguna kendaraan listrik (electric vehicle/EV) perlu dikalibrasi, karena menggunakan mobil listrik dengan mobil berbahan bakar konvesional berbeda. Salah satunya dalam penggunaan sistem pengisian daya baterai.
Pemilik mobil listrik harus mengecas baterai agar bisa sampai ke tempat tujuan, sementara mobil konvesional hanya mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU.
Nah dalam mengisi daya baterai, Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi BRIN Eka Rakhman Priandana, menuturkan penggunaan fast charging atau pengisian cepat untuk tidak seharusnya digunakan setiap saat.
Alasannya karena penggunaan pengisian cepat yang berlebihan akan membuat masa pakai baterai cepat habis, dan pada dasarnya baterai memiliki usia pakai.
“Pemakaian fast charging ini tidak bisa dipakai sesering mungkin, karena akan mengurangi umur baterai,” ujar Eka Rakhman Priandana dalam kegiatan desiminasi “Hasil Riset Rumah Program Purwarupa Sistem Otonom Kendaraan Listrik” secara daring di Jakarta belum lama ini.
Menurut Eka, baterai menggunakan bahan Baterai NMC yang merupakan jenis baterai lithium-ion dengan katode yang terdiri dari nikel, mangan, dan kobalt. Jensi baterai ini hanya mampu mengakses kecepatan arus setengah sirit atau setengah dari kapasitas AHnya baterai tersebut.
Eka menjelaskan jika baterai lithium NMC tersebut berkapasitas 20 AH, maka maksimum pengisian itu hanya bisa diisi dengan menggunakan 10A. Lebih dari itu baterai akan mengalami panas dan mempercepat masa umur dari baterai tersebut.
“Lain halnya dengan baterai LFP ya, memang dirancang LFP teknologi yang terbaru ini, dia bisa menahan arus pengisian sampai 3C,” kata Eka.
